Suasana Kabul Satu Bulan di Bawah Kekuasaan Taliban

Kamis , 23 Sep 2021, 10:57 WIB Reporter :Kiki Sakinah/ Redaktur : Esthi Maharani
 Seorang pejuang Taliban berjalan di sisi jalan ketika Humvee yang membawa pejuang lainnya lewat di Kabul, Afghanistan, Selasa, 21 September 2021.
Seorang pejuang Taliban berjalan di sisi jalan ketika Humvee yang membawa pejuang lainnya lewat di Kabul, Afghanistan, Selasa, 21 September 2021.

IHRAM.CO.ID, KABUL -- Di atas rumah-rumah yang padat dan puncak pegunungan Hindu Kush, langit biru Kabul pernah dihiasi dengan layang-layang warna-warni yang tak terhitung jumlahnya. Layang-layang itu diterbangkan oleh anak-anak dari puncak bukit atau atap rumah mereka. Sejak Taliban merebut ibukota Kabul satu bulan yang lalu, mereka menghilang.

 

Terkait

Taliban dengan cepat mengambil alih Afghanistan dalam serangan agresif yang hanya berlangsung beberapa pekan. Banyak tentara Afghanistan yang menyerah atau melarikan diri. Kelompok militan ini akhirnya memasuki Kabul tanpa banyak perlawanan ketika mantan Presiden Ashraf Ghani dan sebagian besar kabinetnya justru melarikan diri dari negara itu.

Lebih dari 100.000 orang berhasil melarikan diri dari negara itu, saat mereka dievakuasi melalui bandara internasional Kabul. Sementara itu, mereka yang tertinggal tengah bergulat dengan kenyataan baru.

Empat puluh tahun perang telah menghancurkan Afghanistan, menyebabkan penderitaan, kematian dan kemiskinan yang meluas. Kini, Taliban kembali berkuasa setelah sempat memerintah pada 1996-2001.

Sebuah pesan yang dilukis di dinding bekas ledakan di pusat kota bertuliskan, "Bangsa kita, dengan bantuan Tuhan, telah mengalahkan Amerika." Bunyi pesan itu menjadi salah satu slogan baru Taliban, menggantikan mural warna-warni sebelumnya yang pernah menghiasi Kabul.

Selama beberapa dekade terakhir, orang-orang Afghanistan hanya memperoleh sedikit keuntungan, namun telah kehilangan banyak hal. Banyak yang harus meninggalkan tanah air mereka.

Mereka sekarang hidup tersebar di seluruh benua, meninggalkan kehidupan dan pekerjaan mereka yang dulu nyaman, dihargai bahkan di tengah perang, menukarnya untuk masa depan sebagai pengungsi. Hati mereka mungkin merindukan rumah mereka di Afghanistan. Namun, banyak orang Afghanistan tidak dapat membayangkan masa depan di bawah Taliban lagi, mengingat masa kekuasaan di bawah rezim Taliban selama 1996-2001.

Konsep Emirat Islam memang tidak melarang layang-layang beterbangan. Kelompok tersebut juga tidak melarang pendidikan bagi perempuan.

Namun dengan pembentukan pemerintah sementara yang seluruhnya kaum pria, gambaran telah muncul tentang kepemimpinan masa depan negara itu. Kementerian penyebaran kebajikan dan pencegahan kejahatan yang kembali lagi, pernah ditakuti sebagai penegak hukum syariah yang ketat.

Sebulan di bawah kekuasaan Taliban, pejuang kelompok itu terlihat berkeliaran di kota Kabul. Ada yang mengunjungi kebun binatang dan taman hiburan, makan es krim di pinggir jalan, dengan senjata dilempar ke atas bahu mereka.

Beberapa mengatakan mereka datang dari provinsi pedesaan untuk tamasya, sementara yang lain membawa anak-anak mereka. Mereka berdiri berkelompok dan berswafoto bersama, begitu bersemangat untuk menjelajahi kota Kabul.

Sementara itu, bendera Afghanistan sebagian besar telah diganti dengan lambang 'Emirat/Imarah Islam' berwarna putih. Anak-anak terlihat menjual spanduk baru itu di tengah jalanan yang padat di seluruh kota, berjalan ke arah jendela mobil, meminta beberapa uang kertas untuk ditukar dengan spanduk baru itu.

Perempuan turun ke jalan untuk memprotes rezim baru di banyak bagian kota. Mereka menuntut hak atas pekerjaan dan pendidikan. Beberapa aksi protes telah berubah menjadi kekerasan tatkala pejuang Taliban dilaporkan memukuli wanita di kerumunan tersebut dan wartawan ditahan serta dicambuk.

Sementara itu, penduduk Kabul mengatakan bahwa keamanan di ibukota telah meningkat. Banyak yang khawatir akan meningkatnya tingkat kemiskinan. Sebelumnya, Kabul memang pernah dilanda oleh ledakan biasa, bom magnet yang dipasang di mobil dan aksi pembunuhan yang ditargetkan.

Situasi lain memperlihatkan di salah satu pasar utama Kabul tampak para wanita menjual emas mereka. Mereka mencoba mengakses uang tunai untuk menghidupi keluarga mereka. Negara ini kekurangan uang dan Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB) memperingatkan bahwa hingga 97 persen warga Afghanistan bisa jatuh ke dalam kemiskinan pada pertengahan tahun depan.

Dengan kepergian pasukan Amerika Serikat (AS) dan NATO, sebagian besar bantuan asing telah mengering, meskipun para donor pekan ini menjanjikan tambahan dana bantuan sebesar 1 miliar dolar untuk negara tersebut.

Di pinggiran Kabul, seorang nenek berusia 62 tahun, Aisha Nawabi, mengingat dengan baik pemerintahan Taliban sebelumnya.

"Tentu saja mereka tidak berubah," kata Nawabi dari rumahnya, sebuah kompleks berdinding lumpur yang dikelilingi oleh pohon apel di jalan kerikil yang tenang, dilansir di The Guardian, Rabu (22/9).

Nawabi mengaku prihatin, meski ia tidak putus asa. Menurutnya, selama beberapa dekade terakhir, Afghanistan telah berubah. Akses ke pendidikan dan teknologi telah berkembang dan negara telah terbuka.

"Kali ini wanita tidak akan tunduk. Kali ini mereka akan berjuang untuk masa depan yang lebih baik. Saya yakin kali ini Afghanistan secara keseluruhan tidak akan mundur. Kami akan berdiri teguh," ujarnya.

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini