62 Anak Meninggal di Kamp Al Hol Suriah

Kamis , 23 Sep 2021, 11:50 WIB Reporter :Mabruroh/ Redaktur : Esthi Maharani
Seorang anak laki-laki memegang buku saat berjalan di kamp al-Hol, yang menampung keluarga anggota kelompok Negara Islam, di provinsi Hasakeh, Suriah, Sabtu, 1 Mei 2021.
Seorang anak laki-laki memegang buku saat berjalan di kamp al-Hol, yang menampung keluarga anggota kelompok Negara Islam, di provinsi Hasakeh, Suriah, Sabtu, 1 Mei 2021.

IHRAM.CO.ID, DAMASKUS --  Save the Children melaporkan sebanyak 62 anak meninggal dunia di Kamp Roj dan kamp al-Hol di Suriah tahun ini. Setiap pekan, kata dia, ada dua anak yang meninggal dunia.

 

Terkait

"Dua anak meninggal setiap pekan di al-Hol, salah satu kamp Suriah yang penuh sesak di mana keluarga yang diduga terkait dengan ISIS terdampar," kata Save the Children, dilansir dari Alarabiya, Kamis (23/9).

Badan amal itu mengatakan, banyak negara termasuk negara-negara Uni Eropa, menelantarkan ribuan anak di gurun pasir. Mereka rentan terhadap kekerasan, kebakaran, kekurangan gizi dan penyakit.

Save the Children mengatakan total 40 ribu anak dari 60 negara yang berbeda hidup dalam kondisi yang mengerikan di kamp-kamp Roj dan al-Hol di timur laut Suriah.

"Banyak negara terkaya di dunia telah gagal membawa pulang sebagian besar anak-anak mereka yang terjebak di dua kamp pengungsian," kata kelompok itu dalam sebuah pernyataan.

Save the Children mengatakan total terdapat 73 orang, termasuk dua anak-anak, dibunuh di al-Hol sepanjang tahun ini. Kamp Roj dan kamp al-Hol merupakan Kamp-kamp terpencil yang dikelola oleh pasukan Kurdi yang mengendalikan daerah itu.

Kamp-kamp dimaksudkan untuk menampung keluarga orang-orang yang telah ditahan karena dicurigai memiliki hubungan dengan ISIS. Namun mereka juga menahan banyak keluarga yang melarikan diri dari pendudukan ISIS di rumah mereka di Irak dan Suriah. Beberapa telah di sana selama lebih dari empat tahun.

Save the Children mewawancarai beberapa anak yang terperangkap di balik pagar al-Hol, di mana mereka hidup seperti tahanan dan di mana pemerintah mereka tidak mau memulangkan mereka.

“Saya tidak bisa menanggung hidup ini lagi. Kami tidak melakukan apa-apa selain menunggu,” kata seorang gadis Lebanon berusia 11 tahun yang diwawancarai pada Mei lalu dan sejak itu dilaporkan meninggal dalam upaya melarikan diri yang gagal dengan truk air.

Badan amal itu mengatakan, Prancis memiliki 320 anak yang ditahan di kedua kamp tetapi hanya memulangkan 35 anak. Kemudian Inggris memiliki 60 dan hanya membawa pulang empat anak.

“Apa yang kami lihat di sini adalah pemerintah mengabaikan anak-anak, yang merupakan korban konflik pertama dan utama,” kata Sonia Khush, direktur respon Save the Children's Syria.

Menurut Sonia, 83 persen dari operasi repatriasi sejauh ini telah ke Uzbekistan, Kosovo, Kazakhstan dan Rusia. Pihak berwenang Kurdi yang menjalankan daerah itu secara konsisten mengatakan bahwa mereka tidak memiliki kapasitas untuk mengatur persidangan untuk semua tersangka asing yang ditahan atau mendukung keluarga mereka.

Prancis dan negara-negara Barat lainnya telah mewaspadai dampak repatriasi massal terhadap keamanan domestik dan opini publik.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini