Pengalaman Spiritual Haji Urang Banjar

Jumat , 08 Oct 2021, 21:52 WIB Reporter :Ali Yusuf/ Redaktur : Muhammad Hafil
Pengalaman Spiritual Haji <em>Urang Banjar</em>. Foto: Sejumlah jamaah calon haji asal Hulu Sungai Selatan dan Banjarmasin berjalan memasuki pesawat saat keberangkatan kloter pertama di Bandara Syamsuddin Noor, Banjarbaru, Kalimantan Selatan, Selasa (9/7/2019).
Pengalaman Spiritual Haji Urang Banjar. Foto: Sejumlah jamaah calon haji asal Hulu Sungai Selatan dan Banjarmasin berjalan memasuki pesawat saat keberangkatan kloter pertama di Bandara Syamsuddin Noor, Banjarbaru, Kalimantan Selatan, Selasa (9/7/2019).

IHRAM.CO.ID,JAKARTA--Urang Banjar begitu percaya bahwaakan mendapat karma saat malaksanakan haji ketika melakukan keburukan maupun kebaikan. Gambaran karma dan keajaiban tersebut ditulis oleh Dr. Irfan Noor, M.Hum, Prof. Raihani, M.Ed., Ph.D, Muhammad Iqbal, M.Hum dalam judul buku Urang Banjar Naik Haji: Teks, Tradisi, dan Pendidikan Nilai Kalangan Haji Banjar.

 

Terkait

Gambaran ini merupakan hasil wawancara dengan jamaah berinisi TNB dalam cerita pengalaman hajinya.

Baca Juga

Begini ceritanya, ada satu kelompok jamaah haji saat bersamaan dengan kelompok haji yang diikuti beliau yang selalu ingin didahulukan dan diutamakan. Ketika naik bus, selalu ingin naik bus yang lebih bagus padahal bus-bus yang tersedia dan sudah ditentukan kelompok penumpangnya.

"Akhirnya kelompok yang justru berhak terhadap bus yang diinginkan kelompok tersebut justru harus mengalah dengan menumpang bus yang kurang layak," katanya.

Namun anehnya, dalam perjalanan menuju pondokan di Madinah kelompok yang memakai bus yang baru itu justru terlambat tiba di pondokan tempat menginap karena bus yang ditumpangi kelompok tersebut bannya pecah di tengah jalan, padahal bus itu masih baru. Begitu juga ketika sesampai di pondokan di Madinah, kelompok ini juga bersikeras ingin kamar di lantai 3 bukannya kamar di lantai 8.

"Akhirnya kelompok lain mengalah bertukar kamar. Anehnya, pada malam hari air keran di kamar-kamar di lantai 3 macet tidak mengalir, sementara yang di lantai 8  justru mengalir deras," katanya.

Menurut TNB, itulah buah dari dari kesabaran dan tidak kesabaran di tanah suci. Keduanya secara kontan dapat ganjaran langsung. 

Selain TNB yang mengisahkan pengalamannya, ada AQN, dia  juga bercerita bahwa dia pernah melihat ada orang yang dicopet beberapa saat setelah dia mengejek temannya yang baru saja kehilangan uang waktu pulang dari masjid. 

Sementara BD juga menceritakan bagaimana temannya jatuh dari tempat tidur karena dia dan temannya menertawakan teman yang jatuh dari tempat tidur.

ASG menjelaskan bahwa karma yang pernah dilihat dan dialaminya, “Terjadi mun orang yang emosian nang ngaran lempar jumrah nang ngaran tawaf nang nagaran apa, tawaf tu misalnya kita sedang asik dengan bini misalnya lah kayani lah baganding misalnya ada orang meranjah di antara kita bedua amun orang emosian bisa sarikkan mun orang meranjah tu kada tahu-tahu kan walaupun minta maaf atau apa orang kada tahu-tahu kan jadi dasar kalau tebawa emosi di kampung kayapa dasar terbentur maka nang ngaran haji nang kosong ni ngalih dicari”.

Dalam penjelasan ASG tersebut bisa dilihat bahwa emosi adalah sisi rentan yang bisa mendapatkan balasan (karma). Selain itu, ada juga keajaiban yang dirasakan oleh jamaah haji kalsel. 

Beberapa haji Urang Banjar, seperti FQJ, BD, Helmi, JMN, MN dan MKN, menceritakan bagaimana pengalaman yang ajaib menyertai perjalanan haji mereka. FQJ dan JMN misalnya menjelaskan bagaimana mereka yang menolong orang lain di tanah suci, mereka mendapatkan balasan langsung tidak berapa lama setelahnya. 

Sedangkan, HLM dan JMN menceritakan pengalamannya saat hati mereka mengatakan atau mempertanyakan sesuatu yang ada di hadapan mereka, maka langsung mendapatkan jawabannya. JMN menceritakan saat istrinya bertanya dengannya di dalam masjid Haram, “apakah salat mayit ini benar adanya? Kok setiap salat wajib ada saja salat mayit?”, tidak berapa lama saat setelah sang istri bertanya, ada tiga mayit lewat di depan mereka. 

Baru istri JMN percaya bahwa salat mayit tersebut benar dilaksanakan setiap sholat wajib. HLM menceritakan bagaimana perjuangannya menabung untuk berangkat haji, sedangkan setelah beberapa tahun masih tidak mencukupi. Muncul ide dia dan istrinya untuk menjual rumah yang mereka tempati dan uangnya dipakai untuk berangkat. 

Kesepakatan mereka akhirnya diwujudkan dengan menjual tanah beserta rumah dengan ditukar tanah yang lebih luas namun di wilayah yang kurang strategis dan ditambah uang. Oleh karena itu, HLM dan istri mampu berangkat di tahun kemudian. Kemudian, pasca keberangkatan haji Helmi dan istri ditawar oleh orang lain tanah yang mereka tempati tersebut dengan harga yang lebih tinggi ketimbang penjualan yang mereka terima.

BD juga menceritakan ketika dia sangat menginginkan kesempatan mencium Hajar Aswad, dengan itu dia melaksanakan salat dua rakaat hajat dan berdoa semoga dimudahkan untuk mencapai tempat tersebut. Memang, dia mendapatkan kemudahan dalam mencapai dan bisa mencium hajar aswad.

Hal yang sama disampaikan oleh HJZ karena juga mengalami pengalaman yang sama. Pengalaman akan keajaiban haji memang tidak harus dialami oleh haji Urang Banjar, tapi seluruh informan sepakat bahwa karmadan pengalaman akan keajaiban haji adalah fakta yang tidak bisa dibantah.

 

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini