Taliban Masih tak Izinkan Perempuan Sekolah

Selasa , 12 Oct 2021, 12:30 WIB Reporter :Lintar Satria/ Redaktur : Esthi Maharani
Anak-anak perempuan berjalan ke atas saat mereka memasuki sekolah sebelum kelas di Kabul, Afghanistan, Ahad (12/9).
Anak-anak perempuan berjalan ke atas saat mereka memasuki sekolah sebelum kelas di Kabul, Afghanistan, Ahad (12/9).

IHRAM.CO.ID, DOHA -- Hampir dua bulan pemerintahan yang didukung internasional ambruk dan pemberontak merebut kekuasaan di Afghanistan. Pemerintahan Taliban menekan negara-negara lain bersedia bekerja sama dengan mereka untuk mencegah krisis ekonomi. Tetapi, hingga saat ini Taliban masih tak mengizinkan perempuan bersekolah meskipun masyarakat internasional mendesak komitmen tersebut.

 

Terkait

"Masyarakat internasional harus mulai bekerja sama dengan kami. Dengan itu kami dapat menghentikan kerentanan dan di saat yang sama dengan ini kami dapat terlibat dengan positif dengan dunia," kata Menteri Luar Negeri Afghanistan Khan Muttaqi dalam organisasi yang digelar Center for Conflict and Humanitarian Studies di Doha Institute for Graduate Studies, Selasa (12/10).

Namun sejauh ini Taliban menolak untuk memberikan alasan memberikan izin anak perempuan kembali ke sekolah. Salah satu permintaan utama masyarakat internasional setelah Taliban hanya membuka sekolah untuk anak laki-laki bulan lalu.

Muttaqi mengatakan pemerintah Taliban bergerak dengan hati-hati tapi baru berkuasa selama beberapa pekan. Mereka tidak bisa diharapkan menyelesaikan reformasi yang tidak dapat dilakukan masyarakat internasional selama 20 tahun.

"Mereka memiliki sumber daya finansial yang banyak dan dukungan dan bantuan internasional yang kuat tapi di saat yang sama kalian meminta kami melakukan semua reformasi dalam dua bulan?" katanya.

Taliban dikritik atas pendekatan mereka pada pendidikan anak-anak perempuan. Salah satu keberhasilan AS selama 20 tahun di Afghanistan adalah memberikan pendidikan pada anak-anak perempuan di negara itu.  

Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres mengatakan Taliban melanggar janji dalam menjamin pendidikan perempuan. Ia menambahkan perekonomian tidak akan pulih selama perempuan tidak diizinkan bekerja.

Muttaqi kembali meminta AS mencabut sanksi yang memblokir cadangan bank sentral Afghanistan senilai 9 miliar dolar AS di luar negeri. Tapi ia mengatakan meski aset itu tetap dibekukan Taliban masih bisa dapat pemasukan dari pajak, tarif cukai dan pertanian.

Ia mengatakan pasukan Taliban berkuasa penuh di seluruh wilayah Afghanistan dan mampu mengendalikan ancaman dari ISIS yang bertanggung jawab atas serangkaian serangan mematikan beberapa pekan terakhir. Termasuk bom bunuh diri di masjid syiah di Kota Kunduz pekan lalu.

"Sejauh ini pemerintahan Islam Emirat mengendalikan dengan sangat baik masalah ISIS," kata Muttaqi.

Islam Emirat adalah nama pemerintahan yang digunakan Taliban. Muttaqi mengatakan tekanan masyarakat internasional pada Taliban mendorong moral ISIS. "Alih-alih menekan dunia harus bekerja sama dengan kami," katanya.

sumber : Reuters
BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini