Ahli Keuangan Syariah Ingatkan Milenial tak Mudah Berhutang

Selasa , 12 Oct 2021, 16:57 WIB Reporter :Dea Alvi Soraya/ Redaktur : Ichsan Emrald Alamsyah
Perbankan Syariah.  (ilustrasi) Ahli keuangan syariah meminta generasi muda siapkan dana darurat daripada berhutang
Perbankan Syariah. (ilustrasi) Ahli keuangan syariah meminta generasi muda siapkan dana darurat daripada berhutang

IHRAM.CO.ID, JAKARTA— Syariah Funding Product Head Bank Danamon Dwi Rachmawati membagikan tips pengelolaan keuangan bagi generasi muda.

 

Terkait

Persoalan utama yang banyak terjadi namun tidak disadari anak-anak muda adalah resiko finansial, yaitu suatu kondisi dimana seseorang tidak memiliki kemampuan untuk memenuhi kebutuhan premier mereka. Hal ini, biasanya disebabkan adanya kebutuhan darurat, bencana, atau permasalahan keuangan yang menumpuk. 

“Biasanya, solusi yang banyak dilakukan adalah mencari pinjaman atau berhutang ke bank, padahal berhutang hanya akan menimbulkan efek lain seperti bunga atau lainnya,” kata Dwi saat mengisi diskusi virtual Wake Up Wakaf 2021 yang diadakan Dompet Dhuafa, Selasa (12/10).  

“Maka perlu melek resiko finansial dari muda karena resiko itu pasti ada, dimanapun dan kapanpun. Maka perlu ada persiapan dana untuk mengantisipasi resiko tersebut, dana darurat penting,” ujarnya menambahkan.

Hal lain yang perlu dipersiapkan generasi muda adalah penyusunan tujuan keuangan, mulai dari dana menikah, dana pembangunan atau beli rumah, dana pendidikan anak, hingga dana pensiun. Rencana keuangan ini, kata dia, tentu disesuaikan kembali dengan proporsi penghasilan dan prioritas masing-masing. 

“Dana-dana ini bisa dipersiapkan dari jauh-jauh hari sehingga saat sudah siap untuk menikah, beli rumah, atau sudah tua bahkan, dana yang dibutuhkan sudah tersedia,” ujarnya.

Persiapan ini juga dapat menghalau keinginan untuk berhutang atau memanfaatkan layanan pinjaman online, yang telah menjerat dan merugikan banyak orang. Dalam mempersiapkan dana untuk mencapai tujuan finansial, kendala yang paling sering muncul adalah hilangnya konsistensi untuk menabung, kata Dwi. 

“Tantangannya adalah konsisten, karena sekarang sudah sangat mudah untuk transaksi online, termasuk belanja, terlebih adanya sifat takut ketinggalan jaman, atau istilahnya FOMO (fear of missing out). Ini bahaya,” ujarnya.  

“Solusinya, harus pintar menjaga diri, mengatur keuangan, konsisten untuk mencapai tujuan keuangan, persiapan dana darurat, dan meminimalisir pinjam-meminjam,” sambungnya.   

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini