Senin 25 Oct 2021 16:51 WIB

Lamanya Banjir di Samarinda Akibat Rusaknya Ruang Sungai

DAS Karang Mumus awalnya miliki ratusan rawa, namun kini hanya tersisa beberapa rawa.

Banjir merendam ribuan rumah di Samarinda, Kalimantan Timur.
Foto: Dok BMH
Banjir merendam ribuan rumah di Samarinda, Kalimantan Timur.

REPUBLIKA.CO.ID, SAMARINDA -- Misman, pengamat sungai di Kota Samarinda, Kalimantan Timur, menilai lamanya durasi banjir di sejumlah titik di Samarinda hingga lima hari terakhir akibat hujan dan limpahan dari hulu, disebabkan oleh rusaknya ruang sungai di kawasan hulu dan tengah.

"Ruang sungai atau daerah aliran sungai (DAS) itu meliputi gunung, bukit, lembah, rawa, dan titik yang paling dekat dengan sungai, yakni riparian," ujar Misman yang juga Ketua Gerakan Memungut Sehelai Sampah di Sungai Karang Mumus (GMSS-SKM).

Sayangnya, gunung dan bukit digunduli, pohonnya ditebang, sehingga ketika hujan turun, maka tidak ada akar pohon yang dapat menyerap air hujan. Air pun langsung terjun bebas ke pemukiman warga.

Parahnya lagi, bukit di ruang sungai justru banyak yang dipangkas, kemudian tanahnya untuk menguruk rawa demi permukiman. Hal ini merupakan perilaku perusakan lingkungan ganda, karena rawa yang diuruk pun berada di ruang sungai.

Menurutnya, DAS Karang Mumus yang memiliki luas 316,22 km2 atau 31.622 ha dengan keliling sebesar 103,26 km tersebut, awalnya memiliki ratusan rawa, namun seiring perkembangan zaman dan pembangunan yang tidak ramah ruang sungai, maka kini yang tersisa hanya beberapa rawa, itu pun sudah dikuasai oleh warga.

Keberadaan rawa dan bukit dalam DAS sangat vital untuk mengurangi banjir (bukan mencegah), karena air hujan tidak langsung terbuang ke sungai, tapi ditampung di rawa dan akar-akaran di perbukitan.

"Dari rawa dan perbukitan, air akan dialirkan secara perlahan ke sungai sehingga tidak terjadi limpahan air terlalu besar. Ini adalah pekerjaan alam per detik, manusia tidak akan sanggup menggantikan, maka kita jangan mimpi bisa mengatasi banjir jika ruang sungai masih rusak," ucapnya.

Keberadaan rawa dan bukit yang masih terawat atau tidak dirusak manusia juga untuk menjaga kualitas, kuantitas, dan kontinuitas sungai, yakni sungai tetap mengalir meski musim kemarau.

"Tidak seperti sekarang, di musim hujan limpahan air begitu kuat yang akhirnya terjadi banjir. Sedangkan di musim kemarau, sungai mengering karena tidak ada aliran dari rawa maupun perbukitan akibat ruang sungai kita memang rusak parah," tutur Misman.

sumber : Antara
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement