Quraisy Turuti Instruksi Nabi Muhammad Perbaiki Ka'bah

Selasa , 26 Oct 2021, 05:17 WIB Reporter :Ali Yusuf / Redaktur : Muhammad Subarkah
Makkah dan Ka
Makkah dan Ka

IHRAM.CO.ID, JAKARTA -- Masyarakat Makkah akhirnya mau menurut saran Nabi Muhammad untuk membawa sehelai kain setelah beliau keluar dari pintu Shafa.  Sebelumnya mereka melakukan ritual musyrik demi keselamatan mereka dalam membangun Ka'bah dengan menjilat darah.

 

Terkait

"Mereka bersama-sama membawa kain tersebut ke tempat batu itu akan diletakkan," tulis Husen Haekal dalam bukunya Sejarah Muhammad. 

 

Lalu Muhammad mengeluarkan batu itu dari kain dan meletakkannya di tempatnya. Dengan demikian perselisihan itu berakhir dan bencana dapat dihindarkan.

"Quraisy menyelesaikan bangunan Ka’bah sampai setinggi delapanbelas hasta (±11 meter), dan ditinggikan dari tanah sedemikian rupa, sehingga mereka dapat menyuruh atau melarang orang masuk," tulis Husen Haekal.

Di dalam itu mereka membuat enam batang tiang dalam dua deretan dan di sudut barat sebelah dalam dipasang sebuah tangga naik sampai ke teras di atas lalu meletakkan Hubal di dalam Ka’bah. Juga di tempat itu diletakkan barang-barang berharga lainnya, yang sebelum dibangun dan diberi beratap menjadi sasaran pencurian.

 

Husen Haekal mengatakan, umur Muhammad waktu membina Ka’bah dan memberikan keputusannya tentang batu itu, masih terdapat perbedaan pendapat. Ada yang mengatakan berumur dua puluh lima tahun. 

 

"Ibn Ishaq berpendapat umurnya tiga puluh lima tahun," katanya.

 

Kedua pendapat itu baik yang pertama atau yang kemudian, sama saja. Akan tapi yang jelas cepatnya Quraisy menerima ketentuan orang yang pertama memasuki pintu Shafa, disusul dengan tindakannya mengambil batu dan diletakkan di atas kain lalu mengambilnya dari kain dan diletakkan di tempatnya dalam Ka’bah.

 

"Ini menunjukkan betapa tingginya kedudukannya di mata penduduk Makkah," katanya.

 

Betapa besarnya penghargaan mereka kepadanya sebagai orang yang berjiwa besar.

Adanya pertentangan antar-kabilah, adanya persepakatan La’aqat’d-Dam (‘Jilatan Darah’). 

 

Untuk membatalkan itu ritual itual, masyarakat. Makkah menyerahkan putusan kepada barangsiapa mula-mula memasuki pintu Shafa, menunjukkan bahwa kekuasaan di Makkah sebenarnya sudah jatuh. Dan ternyata yang masuk pintu Shafa adalah Nabi Muhammad SAW.

 

 

 

 

 

 

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini