Israel Ogah Kutuk Kejahatan China terhadap Muslim Uighur

Rabu , 27 Oct 2021, 10:20 WIB Reporter :Meiliza Laveda/ Redaktur : Nashih Nashrullah
Israel berkelit ada kepentingan lain untuk China yang dipertahankan. Ilustrasi bendera Israel
Israel berkelit ada kepentingan lain untuk China yang dipertahankan. Ilustrasi bendera Israel

IHRAM.CO.ID, TEL AVIV – Israel telah mencabut tanda tangannya dari pernyataan Persatuan Bangsa-Bangsa (PBB) yang mengutuk pelanggaran hak asasi manusia (HAM) China terhadap Muslim Uighur di provinsi Xinjiang. 

 

Terkait

Sebanyak 43 negara sudah menandatangani pernyataan tersebut termasuk Turki, Jepang, Kanada, Jerman, Amerika Serikat (AS), dan Inggris.

Baca Juga

Mereka menyatakan keprihatinan khusus atas kondisi Muslim Uighur yang berada di kamp pendidikan ulang. Pada Juni lalu, Israel menandatangani pernyataan Dewan HAM PBB yang mendesak China untuk mengizinkan pengamat independen mengakses wilayah Xinjiang. 

Menurut Times of Israel, seorang pejabat Israel yang enggan disebutkan namanya mengatakan pemerintah telah menerima rancangan resolusi sebelumnya.

Namun, mereka memutuskan untuk tidak mendukung inisiatif tersebut karena ada kepentingan lain yang harus diseimbangkan. Pernyataan pengutukan atas pelanggaran HAM China dibacakan Duta Besar Prancis untuk PBB, Nicolas De Riviere, pada pertemuan Komite HAM Majelis Umum.

“Kami menyerukan China untuk mengizinkan akses segera, penuh arti, dan tak terbatas ke Xinjiang bagi pengamat independen, termasuk Komisaris Tinggi PBB untuk HAM dan kantornya. Kami sangat prihatin dengan situasi di Daerah Otonomi Uighur Xinjiang,” kata De Riviere, dikutip Middle East Monitor, Rabu (27/10).

Pernyataan itu juga mengutip laporan yang dinilai kredibel dan menunjukkan adanya jaringan besar kamp pendidikan di mana lebih dari satu juta orang telah ditahan secara sewenang-wenang. Sebagai tanggapan, Duta Besar China untuk PBB Zhang Jun mengkritik pernyataan itu sebagai tuduhan tak berdasar dan kebohongan.

Dia menuduh Amerika Serikat dan beberapa penandatangan lain yang tidak disebutkan namanya menggunakan HAM sebagai alasan untuk memprovokasi konfrontasi.

Menurut Jun, pejabat China memperhatikan perkembangan warga Xinjiang untuk kehidupan yang lebih baik. “Tuduhan ini menghalangi pembangunan China dan pasti akan gagal,” kata Jun.

Sebelumnya, China sudah mendapat kecaman yang meningkat sebagai akibat dari perlakuannya terhadap Muslim Uighur.

Pada Agustus 2018, Komite HAM PBB melaporkan China menahan hampir satu juta Muslim Uighur di kamp pendidikan ulang rahasia di Turkestan Timur.

Banyak yang kembali ke keluarga dalam kondisi lemah, tidak dapat berjalan dan berbicara, dan menunjukkan tanda-tanda penganiayaan. 

 

Sumber: middleeastmonitor

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini