Kepala OCHA: Setengah Populasi Afganistan tak Miliki Makanan

Sabtu , 30 Oct 2021, 13:51 WIB Reporter :Lintar Satria/ Redaktur : Esthi Maharani
Pengungsi internal menerima bantuan makanan yang didistribusikan oleh organisasi bantuan Jerman di Kabul, Afghanistan, 27 Oktober 2021.
Pengungsi internal menerima bantuan makanan yang didistribusikan oleh organisasi bantuan Jerman di Kabul, Afghanistan, 27 Oktober 2021.

IHRAM.CO.ID, NEW YORK -- Kepala Kantor Koordinasi Urusan Kemanusiaan PBB (OCHA) Martin Griffiths mengatakan saat musim dingin hampir setengah populasi Afghanistan tidak memiliki cukup makanan. Setelah Taliban merebut kekuasaan di Afghanistan perekonomian negara itu ambang kehancuran. Griffiths  mengatakan kebutuhan masyarakat Afghanistan meroket.

 

Terkait

Ia mengatakan setengah anak-anak berusia di bawah lima tahun mengalami malnutrisi akut. Di setiap provinsi juga ada wabah campak yang menjadi 'tanda bahaya' dan 'burung kenari di tambang' untuk apa yang terjadi di masyarakat.

Griffiths memperingatkan kerawanan pangan mengarah pada malnutrisi lalu penyakit kemudian kematian. Ia mengatakan 'tidak adanya aksi koretif' dari masyarakat dunia akan menyebabkan kematian di Afghanistan.

Ia mengatakan saat ini Program Pangan Dunia (WFO) memberi makan 4 juta orang di Afghanistan. Tapi PBB memprediksi karena kondisi musim dingin yang mengerikan dan ambruknya perekonomian maka jumlah makanan yang perlu disediakan naik tiga kali lipat atau sekitar 12 juta orang.

Pekan ini WFP meminta 200 juta dolar AS untuk membiayai operasi-operasinya hingga akhir tahun. Griffiths mendesak negara-negara termasuk Amerika Serikat (AS) dan Eropa menangguhkan bantuan pembangunan di Afghanistan setelah Taliban merebut kekuasaan di negara itu pada 15 Agustus lalu.

Lalu mengalihkan dana tersebut untuk bantuan kemanusiaan yang sangat dibutuhkan. Ia mencatat Uni Eropa telah mengalihkan 100 juta euro untuk bantuan kemanusiaan dan Kamis (28/10) kemarin AS juga mengumumkan bantuan kemanusiaan sebesar 144 juta dolar AS.

Sehingga total bantuan untuk rakyat Afghanistan di negara itu dan pada pengungsi di Timur Tengah pada tahun 2021 menjadi 474 juta dolar AS. Griffiths mengatakan krisis saat ini disebabkan dua kekeringan yang terjadi beberapa tahun terakhir, terhentinya layanan masyarakat selama konflik Taliban dan pasukan pemerintah Afghanistan dan keruntuhan ekonomi.

"Jadi pesan yang akan saya sampaikan pada pemimpin-pemimpin G20 adalah kekhawatiran mengenai keruntuhan ekonomi di Afghanistan, karena keruntuhan ekonomi di Afghanistan tentu akan menimbulkan dampak eksponensial di kawasan" kata Griffiths Sabtu (30/10).

"Dan isu spesifik yang akan saya minta dari mereka untuk fokus pertama-tama adalah isu untuk mendapatkan uang tunai ke perekonomian Afghanistan, tidak ke tangan Taliban, ke tangan rakyat yang dapat mengakses rekening bank mereka sendiri yang tidak dibekukan," katanya.

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini