Foto di Situs Arkeologi Dikenakan Biaya, Warga Mesir Protes

Rabu , 03 Nov 2021, 13:20 WIB Reporter :Meiliza Laveda/ Redaktur : Esthi Maharani
Pemandangan umum Piramida Agung Giza, di Giza, Mesir
Pemandangan umum Piramida Agung Giza, di Giza, Mesir

IHRAM.CO.ID, KAIRO – Kementerian Pariwisata dan Purbakala Mesir mengatakan pihaknya akan mengenakan biaya untuk setiap pemotretan pernikahan yang diambil di situs arkeologi di seluruh Mesir. Namun, keputusan yang diumumkan lewat cicitaannya sekarang telah dihapus.

 

Terkait

Cicitan yang diunggah pada Senin menyebut kementerian telah menetapkan biaya pemotretan sebesar 1.500 pound Mesir per jam. “Kementerian Pariwisata dan Purbakala telah menetapkan harga pemotretan untuk pesta pernikahan di semua lokasi arkeologi di Mesir. Keputusan ini telah disetujui dengan otoritas spesialis menjadi 1.500 pound Mesir per jam,” kata mereka.

Pengumuman tersebut mendapat reaksi keras dari warganet Mesir yang menyebabkan pihak kementerian harus menghapus cicitannya. Banyak yang menanggapi cicitan itu dengan sarkasme dan kemarahan. Beberapa menyatakan itu adalah cara bagi pihak berwenang untuk menghasilkan uang dari masyarakat.

Seorang pengguna media sosial mengatakan keputusan itu tidak adil dan situs arkeologi seharusnya bebas dari pungutan biaya. “Ini gila dan tidak konstitusional, memungut bayaran kepada orang Mesir sebagai imbalan untuk mengambil foto dengan situs arkeologi. Kami telah kembali ke masa pemerintahan Mamluk, ketika orang Mesir marah tentang pajak dan biaya yang terlalu tinggi untuk segala hal,” kata seorang warganet @HishamBaker3.

Sementara yang lain menganggap pemerintah Mesir tidak membolehkan warganya untuk menikmati situs arkeologi. “Kami tidak diperbolehkan untuk bersenang-senang atau mengambil foto di depan monumen bersejarah tanpa membayarnya,” kata @Ramy_Archer7.

Dilansir Middle East Eye, Rabu (3/11), beberapa pengguna media sosial juga mengeluhkan nominal biaya yang terlalu tinggi untuk lokasi yang seharusnya bisa dinikmati secara gratis oleh semua orang. Peneliti dan Penulis Mesir Amr Magdi mempertimbangkan keputusan kontroversial tersebut.

“Barang antik milik orang dan daerah yang seharusnya menjadi tempat terbuka bagi semua orang untuk menikmati dan berjalan-jalan tetapi ini hanya menjadi peluang untuk mendapatkan keuntungan,” ujar dia dalam cicitannya..

Awal tahun ini, orang Mesir juga menggunakan media sosial untuk mengkritik parade mumi kuno yang diangkut dari Museum Mesir di pusat Kairo ke tempat peristirahatan baru di selatan kota. Banyak komentator menyebut prosesi itu sebagai gangguan dari pelanggaran hak asasi manusia dan menggunakan foto-foto itu untuk menyoroti penderitaan ribuan orang Mesir yang telah ditahan secara sewenang-wenang dalam beberapa tahun terakhir.

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini