Hari Toleransi Internasional, Menag: Keragamaan Itu Kekayaan

Selasa , 16 Nov 2021, 08:24 WIB Reporter :Zahrotul Oktaviani / Ali Yusuf/ Redaktur : Esthi Maharani
Toleransi (ilustrasi)
Toleransi (ilustrasi)

IHRAM.CO.ID, JAKARTA --  Tanggal 16 November selalu diperingati sebagai Hari Toleransi Internasional atau International Day of Tolerance. Peringatan ini didasarkan pada hasil kesepakatan dari Sidang Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) pada 1995.

 

Terkait

Menteri Agama (Menag) Yaqut Cholil Qoumas mengucapkan selamat memeringati Hari Toleransi Internasional. Menurutnya, inti peringatan ini adalah merayakan keberagaman dan toleransi dalam wujud nyata, serta memastikan semua orang memahami pentingnya memberi ruang satu sama lain.

Baca Juga

“Setiap kita perlu terus menumbuhkan kesadaran bahwa keragaman agama, bahasa, budaya, dan etnis bukanlah dalih untuk konflik, tetapi kekayaan umat manusia. Keragaman adalah kekayaan,” ujar Menag dalam keterangan yang didapar Republika, Selasa (16/11).

Keragamaan, lanjutnya, adalah potensi untuk saling mengenal dan berkolaborasi dalam kebaikan dan mewujudkan kemaslahatan bersama. Sebab, mereka yang bukan seiman adalah saudara dalam kemanusiaan.

Menurut Menag, Kementerian Agama tengah berupaya melakukan penguatan moderasi beragama. Ada empat indikator dalam penguatan moderasi beragama, yaitu komitmen kebangsaan, toleransi, anti-kekerasan dan ramah terhadap tradisi.

Moderasi Beragama juga disebut sebagai cara pandang, sikap dan praktik beragama dalam kehidupan bersama, dengan cara mengimplementasikan esensi ajaran agama. Yaitu, yang melindungi martabat kemanusiaan dan membangun kemaslahatan berlandaskan prinsip adil, berimbang dan menaati konstitusi sebagai kesepakatan berbangsa.

“Moderasi beragama bukanlah upaya memoderasikan agama, melainkan memoderasi pemahaman dan pengamalan kita dalam beragama,” ucap dia.

Menag berharap Aparatur Sipil Negara (ASN), utamanya di Kementerian Agama, bisa menjadi pelopor dalam penguatan moderasi beragama.

Tak hanya itu, ia juga mengajak para tokoh agama, akademisi, tokoh pemuda, dosen, guru dan penyuluh agama, serta kalangan milenial untuk bersinergi dalam diseminasi dan gerakan meningkatkan toleransi antarumat melalui semua saluran.

"Perbedaan adalah fitrah," katanya. 

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini