Kisah Pilu Pengungsi Suriah Hadapi Kematian di Perbatasan

Rabu , 17 Nov 2021, 07:29 WIB Reporter :Meiliza Laveda/ Redaktur : Esthi Maharani
Migran dari Timur Tengah dan tempat lain berkumpul di perbatasan Belarus-Polandia dekat Grodno, Belarus, Senin, 8 November 2021.
Migran dari Timur Tengah dan tempat lain berkumpul di perbatasan Belarus-Polandia dekat Grodno, Belarus, Senin, 8 November 2021.

IHRAM.CO.ID, WARSAWA – Ribuan pengungsi dan migran yang menuju Uni Eropa, terdampar di sepanjang perbatasan Belarusia karena Polandia telah menolak mereka masuk. Dengan datangnya musim dingin, mereka khawatir akan keselamatan mereka. Kurangnya pasokan makanan dan bantuan medis membuat mereka terpaksa menghadapi kematian di sisi perbatasan.

 

Terkait

Salah seorang pengungsi Suriah yang terdampar Nidal Ibrahim (37 tahun) tengah sekarat. Berasal dari Aleppo, dia bersama Muhammad dan keempat anak Muhammad, datang ke perbatasan Belarusia bersama pengungsi lain. Dia berharap bisa mencapai Eropa tetapi takdir berkata lain. Dia harus hidup di hutan tanpa air, minum dari rawa-rawa, dan bertahan tanpa makanan dengan suhu mencapai -5 derajat celsius.

Baca Juga

“Saya harus hidup karena saya memiliki tiga anak yang tinggal bersama istri saya di Turki. Demi mereka, saya harus bertahan. Saya sangat mencintai dan merindukan mereka,” kata Ibrahim.

Ibrahim mengaku suhu yang sangat dingin membuat ia sering kali tidak bisa tidur. Tanpa tempat berteduh, anak-anak Muhammad juga tidak bisa tidur. Saking parahnya, Ibrahim tidak bisa menggambarkan kondisi mereka. “Mereka lapar dan tidak bisa tidur. Saya hanya berharap ada seseorang yang mengasihani,” ujar dia.

Sebelum perang di Suriah, Ibrahim bekerja sebagai guru dan kepala sekolah dasar. Dia dan istrinya meninggalkan Suriah setelah kehilangan beberapa kerabatnya. Bagi dia, perang telah menghancurkan mimpi-mimpi yang telah ia bangun.

Dilansir Aljazirah, Selasa (16/11), Ibrahim masih ingat betul saat pertama kali melarikan diri dari Suriah. Bersama istrinya, ia mencoba melintasi perbatasan Turki. Setelah tinggal di perbatasan selama 24 hari, mereka bisa memasuki Turki pada 9 Oktober 2014.

“Saya tinggal di Turki bersama keluarga saya untuk waktu yang lama, tetapi situasi keuangan saya memburuk setelah mereka memecat saya dari pekerjaan,” ucap dia.

Di Turki, Ibrahim bekerja di pertanian dan mendapat upah yang rendah. Oleh karena itu, ia memutuskan untuk pergi ke Libya dan menyebrangi laut menuju Eropa. Sayangnya, perjalanan Ibrahim tidak semulus yang ia rencanakan. Dia tidak bisa menuju Eropa karena kelompok-kelompok bersenjata yang beroperasi di Libya.

Kemudian ia mendapat kabar ada rute menuju Eropa dari Belarusia. Berbekal keyakin, ia mencoba mengikuti rute tersebut. Dia membeli visa dan tiket pesawat ke Belarusia seharga 800 dolar Amerika dan tambahan biaya untuk memasuki Polandia 500 dolar Amerika. Namun, ketika tiba di perbatasan Polandia, mimpi buruk menimpa Ibrahim.

“Di perbatasan, saya melihat orang mati kelaparan, kehausan, dan kedinginan, tetapi saya tidak bisa berbuat apa-apa. Saya sekarang melarikan diri dari kematian,” tuturnya.

Sekarang, Ibrahim terjebak bersama pengungsi lain di hutan perbatasan Belarusia dan Polandia. Pihak berwenang Polandia telah mengambil kartu SIM dan tidak ada tempat yang bisa ia tuju. Luka dan kesakitan telah menjadi makanan sehari-hari.

“Hari ini, saya tidak tidur karena suhunya terlalu dingin. Akan tetapi, kemarin saya menemukan tas dengan sedikit roti dan susu. Saya berterima kasih kepada Tuhan,” tuturnya. Ibrahim hanya bisa memikirkan anak-anaknya dan cara untuk tetap bertahan. “Tolong, bantu saya untuk hidup. Tolong, seseorang, selamatkan kami,” tambahnya.

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini