Utusan PBB: Taliban tidak Mampu Tangani ISIS di Afghanistan

Kamis , 18 Nov 2021, 17:01 WIB Reporter :Mabruroh/ Redaktur : Nashih Nashrullah
Keberadaan ISIS-K di Afghanistan nyaris berada di semua wilayah. Gerilyawan ISIS (ilustrasi)
Keberadaan ISIS-K di Afghanistan nyaris berada di semua wilayah. Gerilyawan ISIS (ilustrasi)

IHRAM.CO.ID, KABUL – Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) memperingatkan semakin aktifnya ISIS di Afghanistan sejak pengambilalihan Taliban. 

 

Terkait

Utusan PBB Deborah Lyons mengatakan bahwa Taliban telah kehilangan kemampuannya untuk membendung serangan-serangan ISIS. 

Baca Juga

"Taliban telah menunjukkan ketidakmampuan untuk membendung ekspansi Provinsi ISIS-Khorasan (ISIS-K), cabang lokal dari kelompok ekstremis itu," kata Lyons dilansir dari The National News, Kamis (18/11). 

Berbicara kepada Dewan Keamaman PBB, Lyons melanjutkan, hal ini terlihat dari peningkatan tajam dalam jumlah serangan dan perluasan jejak nasional yang dilakukan ISIS-K. 

ISIS-K telah melakukan 334 serangan tahun ini, meningkat tajam dibandingkan 60 tahun lalu. 

"Dulu terbatas di beberapa provinsi dan Kabul, (ISIS-K) sekarang tampaknya hadir di hampir semua provinsi dan semakin aktif,” kata Lyons. 

Pada Rabu (17/11) kemarin, ISIS juga mengaku bertanggung jawab atas dua ledakan yang mengguncang bagian barat ibukota Afghanistan Kabul. Seragan itu menewaskan sedikitnya satu orang dan melukai enam orang lainnya.  

“Taliban bersikeras bahwa mereka melakukan kampanye bersama melawan (ISIS-K), tetapi kampanye ini mengkhawatirkan karena tampaknya sangat bergantung pada penahanan di luar proses hukum dan pembunuhan terhadap tersangka anggota (ISIS-K),” lanjutnya. 

Taliban telah berkonflik dengan ISIS-K selama beberapa tahun karena perbedaan ekonomi dan ideologi.

Para pemimpin Taliban mengatakan mereka dapat melawan kelompok itu dan bahwa Afghanistan tidak akan menjadi basis serangan terhadap negara lain.

Namun, Taliban juga telah bergulat dengan krisis ekonomi dan kemanusiaan setelah pemerintah barat menarik dana dan membekukan aset nasional. 

Lyons memperingatkan, dengan kondisi ekonomi yang runtuh ini bisa mendorong lebih banyak warga Afghanistan ke sektor "informal", seperti obat-obatan, menjalankan senjata dan penyelundupan manusia. 

Ekstremis dan teroris kata dia, akan mendapatkan keuntungan dari peraturan perbankan yang lebih sedikit. 

“Patologi ini pertama-tama akan mempengaruhi Afghanistan, tetapi kemudian mereka akan menginfeksi wilayah tersebut,” katanya.

 

 

Sumber: thenationalnews

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini