Kamis 18 Nov 2021 17:06 WIB

AS Kategorikan Rusia Negara Pelanggar Kebebasan Beragama

Rusia bersama Myanmar dan Korut masuk negara pelanggar kebebasan beragama versi AS

Rep: Kamran Dikarma/ Red: Christiyaningsih
Pendukung partai komunis memegang bendera merah besar di dekat Makam pendiri Soviet Vladimir Lenin selama demonstrasi menandai peringatan 104 tahun revolusi Bolshevik 1917 di Lapangan Merah, di Moskow, Rusia, Ahad 7 November 2021. Rusia bersama Myanmar dan Korut masuk negara pelanggar kebebasan beragama versi AS.
Foto: AP/Pavel Golovkin
Pendukung partai komunis memegang bendera merah besar di dekat Makam pendiri Soviet Vladimir Lenin selama demonstrasi menandai peringatan 104 tahun revolusi Bolshevik 1917 di Lapangan Merah, di Moskow, Rusia, Ahad 7 November 2021. Rusia bersama Myanmar dan Korut masuk negara pelanggar kebebasan beragama versi AS.

REPUBLIKA.CO.ID, WASHINGTON – Menteri Luar Negeri Amerika Serikat (AS) Antony Blinken telah mencantumkan Rusia dalam daftar negara pelanggar kebebasan beragama. Moskow bergabung dengan beberapa negara lainnya yakni Myanmar, Iran, Eritrea, Korea Utara (Korut), Pakistan, Tajikistan, dan Turkmenistan.

Nigeria, yang tahun lalu berada dalam daftar tersebut, telah dihapus. Blinken berencana mengunjungi negara itu pekan ini. Negara-negara yang masuk dalam daftar dinilai terlibat atau menoleransi pelanggaran kebebasan beragama yang sistematis, berkelanjutan, dan mengerikan.

Baca Juga

Terdapat empat negara yang masuk dalam daftar pantauan AS terkait pelanggaran kebebasan beragama yakni Aljazair, Komoro, Kuba, dan Nikaragua. “AS tidak akan melepaskan komitmennya untuk mengadovokasi kebebasan beragama atau berkeyakinan untuk semua dan di setiap negara,” kata Blinken dikutip laman The National, Kamis (18/11).

Blinken menilai pelanggaran hak kebebasan beragama oleh negara terus terjadi di seluruh dunia. “Di terlalu banyak tempat di seluruh dunia, kita terus melihat pemerintah melecehkan, menangkap, mengancam, memenjarakan, dan membunuh individu hanya karena berusaha menjalani hidup mereka sesuai dengan keyakinan mereka,” ucapnya.

Dia menekankan tantangan kebebasan beragama membutuhkan komitmen global dan niat mendesak dari komunitas internasional. “Tantangan terhadap kebebasan beragama di dunia saat ini bersifat struktural, sistemik, dan mengakar kuat. Mereka ada di setiap negara,” ujar Blinken.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement