Rusia Beri Citra Satelit Lebanon saat Ledakan Beirut  

Selasa , 23 Nov 2021, 22:32 WIB Reporter :Alkhaledi Kurnialam/ Redaktur : Nashih Nashrullah
Pemandangan kawasan pelabuhan yang hancur dalam enam bulan sejak hari ledakan, di Beirut, Lebanon, 04 Februari 2021. Sedikitnya 200 orang tewas, dan lebih dari enam ribu lainnya luka-luka dalam ledakan Beirut yang meluluhlantahkan kawasan pelabuhan tersebut pada 04 Agustus. Hal ini diyakini disebabkan oleh sekitar 2.750 ton amonium nitrat yang disimpan di gudang.
Pemandangan kawasan pelabuhan yang hancur dalam enam bulan sejak hari ledakan, di Beirut, Lebanon, 04 Februari 2021. Sedikitnya 200 orang tewas, dan lebih dari enam ribu lainnya luka-luka dalam ledakan Beirut yang meluluhlantahkan kawasan pelabuhan tersebut pada 04 Agustus. Hal ini diyakini disebabkan oleh sekitar 2.750 ton amonium nitrat yang disimpan di gudang.

IHRAM.CO.ID, MOSKOW— Menteri Luar Negeri Rusia Sergei Lavrov mengatakan negaranya mengirim citra satelit pemerintah Lebanon di hari ledakan mematikan di pelabuhan Beirut tahun lalu. Pemberian gambar ini sebagai upaya membantu penyelidikan peristiwa tersebut. 

 

Terkait

 

Baca Juga

Dilansir dari The New Arab, Senin (22/11), dalam pertemuan dengan otoritas terkait dari Lebanon, Abdallah Bou Habib, mengatakan Lavrov telah mentransfer gambar yang disiapkan oleh badan antariksa negara itu. Gambar itu menangkap pelabuhan sebelum dan sesudah ledakan yang akan membantu menentukan penyebab ledakan. 

 

 “Kami berharap para ahli Lebanon akan menjawab pertanyaan ini yang benar-benar menjadi gangguan politik yang sangat kuat bagi Lebanon,” kata Lavrov. 

 

 Lavrov juga mengatakan mereka membahas "kemungkinan partisipasi" perusahaan-perusahaan Rusia dalam rekonstruksi infrastruktur Beirut yang rusak akibat ledakan itu. 

 

Pada Agustus 2020, ratusan ton amonium nitrat yang disimpan di Pelabuhan Beirut meledak, mengirimkan ledakan kuat ke seluruh ibu kota Lebanon yang menewaskan lebih dari 215 orang. 

 

Hakim Lebanon yang memimpin penyelidikan atas ledakan itu terpaksa menghentikan penyelidikannya tiga kali menyusul tuntutan hukum dari mantan Menteri yang diduga lalai. Hakim telah meminta kerja sama beberapa negara, termasuk Prancis dan Amerika Serikat, untuk mendapatkan citra satelit sejak hari ledakan. 

 

Selain ledakan, para menteri Rusia dan Lebanon membahas isu pengungsi yang melarikan diri dari Suriah sejak 2011 ke negara tetangga, termasuk Lebanon. Lavrov berbicara tentang kemungkinan menyelenggarakan konferensi internasional tentang masalah ini di Lebanon, yang menampung lebih dari 1,5 juta warga Suriah.      

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini