Israel Minta Detektor Logam di Gerbang Al Aqsa Dipasang Lagi

Rabu , 24 Nov 2021, 12:43 WIB Reporter :Mabruroh/ Redaktur : Esthi Maharani
Kompleks masjid Al Aqsa
Kompleks masjid Al Aqsa

IHRAM.CO.ID,  YERUSALEM -- Seorang menteri Israel pada Senin (22/11) menyerukan agar detektor logam di gerbang masjid Al-Aqsa di Kota Tua Yerusalem Timur kembali dipasang. Intruksi ini keluar setelah seorang warga Palestina dan seorang warga Israel dari Afrika Selatan tewas dalam insiden penembakan pada Ahad (21/11).

 

Terkait

Menteri Komunikasi Israel, Yoaz Hendel mengatakan bahwa Israel harus memastikan bahwa tidak ada orang bersenjata yang memasuki Yerusalem. "Soal metal detector harus dikaji ulang. Kami sudah menyerah pada ini di masa lalu dan tidak mungkin untuk menyerah di masa depan," katanya dilansir dari Middle East Eye, Selasa (23/11).

Baca Juga

Israel memasang detektor logam pada musim panas 2017 di gerbang lapangan terbuka Haram al-Sharif, yang dikenal orang Yahudi sebagai Temple Mount. Tetapi langkah itu dikecam oleh orang-orang Palestina, yang pada saat itu menolak memasuki kompleks itu melalui penghalang Israel sebagai protes.

Tindakan itu dilakukan setelah tiga warga Palestina Israel, dari kota Oum al-Fahm, menembak dua penjaga keamanan Israel di dekat gerbang Al-Aqsa pada Juli 2017.

Israel harus melepas detektor logam di tengah meningkatnya protes di Yerusalem dan peringatan dari intelijen Israel tentang eskalasi di Tepi Barat yang diduduki.

Pada Ahad (21/11), Fadi Abu Shukhaidem, seorang guru berusia 42 tahun, menembak mati Eliyahu David Kay, yang baru saja pindah ke Israel dan menyelesaikan dinas militernya, menurut Times of Israel. Abu Shukhaidem yang mengenakan pakaian ultra-ortodoks selama penembakan, melukai empat orang lainnya di area Gerbang Rantai Kota Tua sebelum ditembak dan dibunuh.

Dia dipuji oleh gerakan Hamas yang memerintah Jalur Gaza sebagai salah satu pemimpin di Yerusalem. Dalam sebuah pernyataan Hamas mengatakan, bahwa penembakan itu merupakan pesan dan peringatan kepada Israel untuk menghentikan serangan di tanah Palestina dan tempat-tempat suci umat Islam. Seraya menambahkan bahwa Israel akan membayar harganya untuk penyerangan di masjid Al-Aqsa, lingkungan Silwan dan Sheikh Jarrah.

Pihak berwenang Israel telah melancarkan tindakan keras terhadap keluarga Abu Shukhaidem sejak insiden itu. Mereka menyerbu rumahnya di kamp pengungsi Shufaat, serta Rashidiya, sebuah sekolah di seberang tembok kuno Yerusalem tempat dia mengajar.

Pasukan Israel juga menggerebek rumah Adnan Gheith, Walikota Otoritas Palestina di Yerusalem, pada Ahad malam. Menurut kantor berita Wafa, tentara Israel menembakkan granat kejut ke rumah walikota di lingkungan Silwan, memukulinya dan anggota keluarganya, menyebabkan luka-luka, dan menangkap tiga dari mereka.

Gheith, yang tinggal di Yerusalem Timur, telah keluar masuk tahanan Israel sebanyak 28 kali sejak 2018. Sejak itu, dia dilarang oleh otoritas Israel memasuki Kota Tua dan kota-kota di Tepi Barat atau berkomunikasi dengan 51 tokoh nasional Palestina.

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini