WHO Namai Varian Baru Covid Afsel Omicron

Sabtu , 27 Nov 2021, 19:30 WIB Redaktur : Agung Sasongko
Warga berjalan melewati mural bergambar vaksinasi Covid-19 di kotapraja Duduza, Afrika Selatan, Rabu (23/6).  Afrika Selatan memutuskan untuk menerapkan lockdown ketat mulai Senin (28/6) untuk melawan gelombang tiga pandemi Covid-19 karena lonjakan penularan varian Delta. (AP Photo/Themba Hadebe)Putra M. Akbar
Warga berjalan melewati mural bergambar vaksinasi Covid-19 di kotapraja Duduza, Afrika Selatan, Rabu (23/6). Afrika Selatan memutuskan untuk menerapkan lockdown ketat mulai Senin (28/6) untuk melawan gelombang tiga pandemi Covid-19 karena lonjakan penularan varian Delta. (AP Photo/Themba Hadebe)Putra M. Akbar

IHRAM.CO.ID, JAKARTA -- Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) pada Jumat (26/11) mengklasifikasi varian B11529 yang muncul di Afrika Selatan sebagai SARS-CoV-2 "varian yang diwaspadai", dan menyebutkan bahwa varian itu kemungkinan lebih cepat menular dibanding varian lainnya.Bukti awal menunjukkan adanya peningkatan risiko infeksi berulang dan "perubahan yang merugikan dalam epidemiologi Covid-19," kata WHO lewat pernyataan usai rapat tertutup ahli independen yang meninjau data tersebut.

 

Terkait

Infeksi di Afrika Selatan melonjak drastis dalam beberapa pekan terakhir, bersamaan dengan temuan varian yang kini dinamai sebagai omicron, katanya."Varian ini mempunyai mutasi yang banyak, yang beberapa di antaranya mengkhawatirkan. Bukti awal memperlihatkan bahwa varian ini memiliki risiko infeksi berulang yang tinggi, jika dibanding dengan (varian yang diwaspadai) lainnya", kata dia.

Baca Juga

Omicron merupakan varian Covid-19 kelima yang menyandang nama."Varian ini telah terdeteksi pada tingkat yang lebih cepat dibanding lonjakan infeksi sebelumnya, menunjukkan bahwa varian ini mungkin memiliki keunggulan dalam menyebarkan virus," kata WHO.

Menurut WHO, tes PCR saat ini masih dapat mendeteksi varian tersebut.WHO sebelumnya memperingatkan negara-negara untuk tidak terburu-buru menerapkan pembatasan perjalanan sehubungan dengan temuan varian baru tersebut, mengatakan bahwa mereka harus mengambil "pendekatan berbasis risiko dan sains".