Mesir dan Qatar Bantu Bayar Gaji ASN di Gaza

Rabu , 01 Dec 2021, 05:20 WIB Reporter :Alkhaledi Kurnialam/ Redaktur : Esthi Maharani
Nusantara Palestina Center (NPC), berikan insentif kepada 200 guru dari berbagai provinsi di Jalur Gaza, Kamis (9/9). Guru atau tenaga pengajar penerima intensif itu meliputi guru SD, SMP dan SMA dari berbagai wilayah di Jalur Gaza.
Nusantara Palestina Center (NPC), berikan insentif kepada 200 guru dari berbagai provinsi di Jalur Gaza, Kamis (9/9). Guru atau tenaga pengajar penerima intensif itu meliputi guru SD, SMP dan SMA dari berbagai wilayah di Jalur Gaza.

IHRAM.CO.ID, GAZA -- Mesir dan Qatar telah menyetujui mekanisme untuk membayar gaji bagi pegawai negeri di Jalur Gaza yang terkepung. Mereka membantu membayar gaji para pegawai setelah tujuh bulan pembayaran tersendat.

 

Terkait

Dilansir dari Middle East Eye, Selasa (29/11), surat kabar Israel, Haaretz melaporkan adanya kesepakatan antara Qatar, Israel, Mesir dan kelompok Palestina Hamas yang menguasai Gaza. Perjanjian baru ini akan memungkinkan Qatar menyediakan uang bagi pegawai pemerintahan yang dijalankan Hamas secara tidak langsung dengan membeli bahan bakar dari Mesir.

Baca Juga

Bahan bakar itu kemudian akan dikirim ke Hamas melalui penyeberangan Rafah Mesir dengan Gaza, kemudian Hamas akan menggunakan keuntungan dari penjualan bahan bakar itu untuk membayar gaji pegawai negeri. Nominal gaji yang harus dibayarkan diperkirakan mencapai Rp 143 miliar per bulan.

“Secara resmi, Israel menegaskan bahwa itu bukan pihak dalam perjanjian, yaitu antara Qatar, Mesir dan Hamas, dan karena itu menolak untuk mengomentarinya,” lapor Haaretz.

“Tetapi pada kenyataannya, menurut orang-orang yang terlibat dalam masalah ini, pengiriman bahan bakar yang dijadwalkan akan segera dimulai tidak akan mungkin tanpa persetujuan diam-diam Israel,” tambah laporan itu.

Israel dan Mesir telah mempertahankan blokade ketat di wilayah itu sejak Hamas memenangkan pemilihan pada tahun 2006 dan menguasai Jalur Gaza, dengan pergerakan orang dan barang masuk dan keluar dari Gaza sangat dibatasi. Permusuhan pada bulan Mei antara Israel dan Hamas telah meningkatkan dampak blokade.

Kampanye pemboman 11 hari oleh Israel menewaskan sedikitnya 248 warga Palestina dan menghancurkan lebih dari selusin rumah sakit dan klinik, bersama dengan lebih dari 1.000 unit tempat tinggal.

Selanjutnya, dua juta warga Palestina yang tinggal di Gaza telah menghadapi pengetatan lebih lanjut dari pembatasan Israel atas keluar masuknya barang.  Israel telah mencegah impor bahan dan peralatan ke Gaza dan memberlakukan pembatasan ketat pada ekspor, yang menyebabkan kelumpuhan di beberapa sektor ekonomi Gaza.

Qatar telah menyediakan ratusan juta dolar untuk keluarga termiskin Gaza dalam beberapa tahun terakhir dan berjumlah sekitar Rp 430 miliar per bulan sejak lama. Dana tersebut telah menjadi sumber utama stabilitas untuk wilayah miskin, di mana pengangguran telah meningkat menjadi 75 persen.

Pada konflik terakhir Israel pada bulan Mei, pembayaran diblokir oleh Israel selama beberapa bulan, karena pemerintah Israel berpendapat bahwa mekanisme bantuan untuk memasuki Gaza perlu dijamin agar tidak sampai ke Hamas. Beruntung pada bulan Agustus, Qatar dan Israel mencapai kesepakatan untuk melanjutkan pembayaran bantuan kepada ribuan keluarga di Gaza.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini