Pengungsi Muslim Dirikan Restoran Sementara di Kamp Dunkirk

Rabu , 01 Dec 2021, 06:03 WIB Redaktur : Muhammad Subarkah
Sekelompok orang yang diduga migran dibawa ke Dover, Inggris oleh RNLI, menyusul insiden perahu kecil di Selat Inggris, Kamis 25 November 2021. Pada Rabu, sekitar 30 migran tujuan Inggris tewas saat perahu mereka tenggelam. Selat Inggris, yang oleh menteri dalam negeri Prancis disebut sebagai tragedi migrasi terbesar di persimpangan berbahaya hingga saat ini.
Sekelompok orang yang diduga migran dibawa ke Dover, Inggris oleh RNLI, menyusul insiden perahu kecil di Selat Inggris, Kamis 25 November 2021. Pada Rabu, sekitar 30 migran tujuan Inggris tewas saat perahu mereka tenggelam. Selat Inggris, yang oleh menteri dalam negeri Prancis disebut sebagai tragedi migrasi terbesar di persimpangan berbahaya hingga saat ini.

IHRAM.CO.ID, DUNKIRK -- Beberapa hari setelah para migran mulai mendirikan tenda di lokasi baru di sepanjang jalur rel lama di Dunkirk di Prancis utara pekan lalu, Dawan Anwar Mahmud dengan cepat mengambil kesempatan. Dia  membangun restoran sementara pertama di pengungsian.

 

Terkait

Terbuat dari bingkai kayu menggunakan pohon-pohon terdekat dan ditutupi terpal, restoran ini dibangun dalam sehari dan sedikit lebih kokoh dari tenda. Namun, polisi tiba di pengungsian pada Selasa (30/11), ​​​​mengusir penduduk dan merobohkan tenda dan tempat perlindungan.

 

Berbicara sebelum polisi tiba, Mahmud menggambarkan cara dia ingin mulai mendapatkan uang tunai. Kebutuhan ini setelah dia kehilangan 1.600 pound dari seorang penyelundup ketika pertama kali tiba di Prancis menjelang akhir musim panas.

 

"Saya membuka restoran kecil untuk pergi ke Inggris," katanya sehari sebelum pengusiran. Upaya untuk menghubunginya oleh Reuters melalui telepon setelah penggusuran tidak berhasil.

 

Pekan lalu, sebuah perahu berpenduduk sedikitnya 29 orang terbalik di Channel, yakni selat di antara Inggris dan Prancis yang punya bentangan perairan sepanjang 30 km. Hanya dua orang yang selamat, menyoroti risiko besar yang diambil para migran untuk mencapai Inggris melalui salah satu jalur air tersibuk di dunia.

 

Tapi bahkan sebelum ini, Mahmud takut akan penyeberangan Channel. Sebulan yang lalu, dia dibawa ke pantai oleh penyelundup lain dan mundur setelah melihat akan berbagi perahu dengan 47 orang. 

 

"Saya berkata 'tidak, saya takut!' Dia memukul saya dan merusak telepon saya untuk memastikan saya tidak menelepon polisi," kata pria berusia 30 tahun dari Qalat Dizah di Kurdistan Irak ini. 

 

Dengan membangun restoran sementara, Mahmud berencana mengumpulkan cukup uang untuk naik perahu dengan lebih sedikit orang, atau lebih baik lagi, untuk menghindari laut dan naik truk. Saat ini jarang orang menyeberangi Channel yang tersembunyi di dalam truk karena peningkatan pengawasan.

 

Rute yang lebih rumit membuat harganya naik. Naik truk ke Inggris saat ini berharga sekitar 4.000 pound, dibandingkan dengan 2.500-3.000 untuk naik perahu.

 

Mahmud menghasilkan antara 40 euro dan 70 euro per hari dan mempekerjakan dua pekerja, yang menerima 25 euro per hari. Mereka juga bekerja untuk membayar biaya perjalanan mereka ke Inggris.

 

Pada makan siang, restoran menyajikan hati ayam gaya Kurdi dalam baguette dengan irisan tomat dan bawang.

 

Pada malam hari, ketika Mahmud tidak memasak dengan kompor gasnya, dia menyalakannya di dalam tenda satu orang dan menonton film. Itu berbahaya tapi dia kedinginan, tanah di sekitar tendanya berlumpur dan sepatunya selalu basah.

 

Kamp berbau racun ketika orang-orang mulai membakar botol dan kemasan agar api unggun tetap menyala. "Semua orang di rumah di depan perapian mereka, dan kami di sini di bawah selembar plastik," katanya.

 

Mahmud mengalami cedera kaki yang kambuh dalam cuaca dingin. Masalah itu bermula di Irak 10 tahun lalu, ketika ditangkap, kemudian dipenjarakan selama enam bulan dan dipukuli oleh polisi.

 

Menurut pengakuan Mahmud, penangkapannya amibat ikut serta dalam protes menentang pemerintah daerah. Dokter mengatakan pada saat itu bahwa dia mungkin perlu mengamputasi kakinya.

 

Setelah penindasan kekerasan pada 

 2015, Mahmud memutuskan untuk meninggalkan negaranya. Dia pindah ke Swedia untuk bergabung dengan saudara perempuannya tetapi klaim suakanya ditolak setelah enam tahun menunggu.

 

Swedia yang membuka jalan Mahmud belajar memasak di restoran Kurdi. Dia menjadi spesialis kebab dan roti pipih. “Saya bisa membuat 800 potong roti sendiri dalam satu hari,” katanya.

 

Mahmud mengatakan tidak bisa membuat roti ini sekarang karena tidak memiliki oven tandoor. Alat itu pun tidak masuk akal untuk mendapatkannya karena para migran berisiko diusir oleh polisi setiap saat.

 

Tentu saja, tujuan Mahmud adalah membuka restoran yang lebih permanen. Untuk saat ini, dia merasa Inggris adalah taruhan terbaiknya, tetapi dia tetap berpikiran terbuka.

 

"Bagi saya, jika itu Prancis atau Inggris atau Jerman atau Belgia, sama saja. Aku baru saja datang ke sini untuk memulai hidup baru," kata Mahmud. Dwina Agustin /reuters 

 

 

 

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini