Terselamatkannya Paviliun Expo 2020 Afghanistan

Jumat , 03 Dec 2021, 13:31 WIB Reporter :Mabruroh/ Redaktur : Esthi Maharani
 Orang-orang mengunjungi situs EXPO selama hari pertama EXPO 2020 Dubai di emirat Teluk Dubai, Uni Emirat Arab pada 01 Oktober 2021. 192 negara mengambil bagian di paviliun mereka di EXPO 2020 Dubai yang merupakan Expo internasional pertama yang diadakan di kawasan Timur Tengah, Afrika, dan Asia Selatan (MEASA) yang berlangsung antara 01 Oktober 2021 dan 31 Maret 2022.
Orang-orang mengunjungi situs EXPO selama hari pertama EXPO 2020 Dubai di emirat Teluk Dubai, Uni Emirat Arab pada 01 Oktober 2021. 192 negara mengambil bagian di paviliun mereka di EXPO 2020 Dubai yang merupakan Expo internasional pertama yang diadakan di kawasan Timur Tengah, Afrika, dan Asia Selatan (MEASA) yang berlangsung antara 01 Oktober 2021 dan 31 Maret 2022.

IHRAM.CO.ID, ABU DHABI --  Pemerintah terpilih Afghanistan bertanggungjawab atas Pavilliun Expo 2020 di Dubai, Uni Emirat Arab. Tetapi setelah Taliban mengambil alih Afghanistan pada Agustus lalu, nasib Pavilliun menjadi tidak jelas. Pavilliun tetap kosong saat Expo 2020 dibuka pada 1 Oktober.

 

Terkait

Ketika pejabat Expo memberinya lampu hijau untuk mengambil alih paviliun, Mohamed Omar Rahimy segera berangkat ke Dubai dari Wina.

“Kami dari pihak swasta. Pada bulan September, ketika pejabat Expo menghubungi saya mengetahui pengalaman saya, saya siap untuk itu," kata Mohamed Omar Rahimy, Direktur Paviliun di Expo 2020 Dubai.

"Saya sudah tinggal di Austria selama lebih dari 40 tahun tetapi hati saya ada di Afghanistan. Saya tidak memiliki afiliasi politik, tetapi setiap kali negara saya membutuhkan saya, saya berusaha untuk berada di sana," ungkapnya dilansir dari Alarabiya, Jumat (3/12).

Rahimy mengatakan bahwa dia lahir dan tumbuh di Afghanistan hingga ia remaja. Kemudian ia melarikan diri pada 1978 untuk menghindari kekerasan dan pertempuran. Rahimy mengatakan nenek moyangnya telah berkecimpung dalam bisnis barang antik untuk waktu yang lama. Ayahnya yang memaksa Rahimy melarikan diri dari Afghanistan, mengelola sebuah toko barang antik di Kabul.

Sekarang berbasis di Austria selama lebih dari 40 tahun, Rahimy mengatakan tidak memiliki afiliasi politik. Tetapi setelah jatuhnya pemerintahan Presiden Ashraf Ghani di Kabul pada Agustus, dia memiliki kesempatan untuk mengambil alih paviliun, dia mengambilnya tanpa berpikir dua kali.