Survei: 80 Persen Dokter Muslim Inggris Korban Islamofobia

Senin , 06 Dec 2021, 00:47 WIB Reporter :Dea Alvi Soraya/ Redaktur : Agung Sasongko
Dokter mengenakan masker (ilustrasi).
Dokter mengenakan masker (ilustrasi).

IHRAM.CO.ID, LONDON -- Sebuah survei yang dilakukan ITV News, salah satu devisi penyiaran milik stasiun televisi ITV Britania Raya, mengungkap adanya diskriminasi dan bias terhadap profesional yang berasal dari kelompok agama dan ras minoritas di Layanan Kesehatan Nasional (NHS). Berdasarkan data pada 2020, lembaga kesehatan milik negara yang selalu menjunjung nilai keberagaman dan inklusif itu, mempekerjakan tenaga medis dan staf dari etnis minoritas setidaknya 40 persen dari total pekerja. 

 

Terkait

Selama pandemi, NHS telah banyak kehilangan staf dan pekerjanya saat berjuang melawan Covid-19, dan mayoritas mereka yang gugur adalah dokter dari etnis minoritas. Penelitian ITV News pada tahun 2020 mengungkapkan bahwa selama pandemi, dokter etnis minoritas ditekan untuk bekerja di garis depan tanpa APD yang memadai dibandingkan dengan rekan kulit putih mereka.

Baca Juga

“Lebih dari 90 persen dokter yang meninggal saat bertugas di garis depan COVID berasal dari latar belakang etnis minoritas,” tulis laporan itu, menambahkan bahwa dalam analisis laporan media menunjukkan bahwa lebih dari 50 persen dokter yang meninggal selama gelombang pertama adalah Muslim.

photo

Infografis Konflik Israel Palestina Tingkatkan Islamofobia - (Republika)

Situs Asosiasi Dokter Muslim menyatakan, “Sekitar 10 persen tenaga medis adalah Muslim, tetapi proporsi dokter Muslim yang meninggal secara signifikan lebih tinggi. Di NHS, Muslim kurang terwakili dalam posisi kepemimpinan tetapi menjadi korban Covid-19 terbanyak.”

"Melalui lensa interseksionalitas, orang dapat melihat bagaimana 'lapisan demi lapisan ketidaksetaraan' bersinggungan untuk meningkatkan kerentanan dan diskriminasi yang dihadapi oleh dokter Muslim,” ujar Asosiasi Dokter Muslim dalam pernyataannya yang dikutip di Al Araby, Ahad (5/12). 

Penelitian sebelum pandemi juga mengungkapkan bahwa petugas kesehatan etnis minoritas lebih mungkin mengalami intimidasi, pelecehan, tindakan disipliner, dan sanksi yang lebih serius di tempat kerja. Ketidaksetaraan tetap ada dalam perawatan, pengalaman dan peluang untuk pengembangan dokter etnis minoritas seperti yang disorot oleh pencapaian yang tidak setara dalam pendidikan dan pelatihan kedokteran, representasi kepemimpinan, kesenjangan gaji etnis, pelecehan dan keluhan oleh pasien dan data inspeksi CQC.