Studi: Islamofobia Pengaruhi Tenaga Kesehatan Inggris

Senin , 06 Dec 2021, 13:32 WIB Reporter :Zahrotul Oktaviani / Rizky suryarandika/ Redaktur : Esthi Maharani
Seorang karyawan NHS memeriksa ruang vaksinasi di pusat vaksinasi massal Elland Road di Leeds, Inggris
Seorang karyawan NHS memeriksa ruang vaksinasi di pusat vaksinasi massal Elland Road di Leeds, Inggris

IHRAM.CO.ID, LONDON -- Dinas Kesehatan Nasional atau NHS di Inggris merupakan pemberi kerja terbesar kelima di dunia, dengan nilai-nilainya yang beragam dan inklusif. Berdasarkan data pemerintah 2020, staf etnis minoritas di lembaga ini mencapai 40 persen dari angkatan kerja.

 

Terkait

NHS telah bekerja di garis depan dalam melawan Covid-19 selama beberapa bulan terakhir. Namun, pandemi ternyata juga mengungkap diskriminasi dan bias terhadap pekerja profesional NHS, utamanya dari kelompok dan agama yang berbeda ras.

Baca Juga

Dilansir di Al Araby, Sabtu (4/12), penelitian ITV News pada 2020 mengungkapkan, selama pandemi dokter etnis minoritas ditekan untuk bekerja di garis depan tanpa APD yang memadai, dibandingkan dengan rekan kulit putih mereka.

Lebih dari 90 persen dokter yang meninggal saat bertugas berasal dari latar belakang etnis minoritas. Menurut analisis laporan media menunjukkan, lebih dari 50 persen dokter yang meninggal selama gelombang pertama pandemi Covid-19 adalah Muslim.

"Sekitar 10 persen tenaga medis adalah Muslim, tetapi proporsi dokter Muslim yang telah meninggal jauh lebih tinggi. Di NHS, Muslim kurang terwakili dalam posisi kepemimpinan, tetapi terlalu terwakili dalam korban Covid-19," ujar Asosiasi Dokter Muslim dalam situs mereka.

Penelitian sebelum pandemi juga mengungkapkan petugas kesehatan etnis minoritas lebih mungkin mengalami intimidasi, pelecehan, tindakan disipliner dan sanksi yang lebih serius di tempat kerja.

Ketidaksetaraan juga ditemukan dalam hal pengobatan, pengalaman dan peluang untuk pengembangan bagi dokter etnis minoritas. Salah satu yang disorot adalah pencapaian yang tidak setara dalam pendidikan dan pelatihan kedokteran, representasi kepemimpinan, kesenjangan gaji etnis, pelecehan dan keluhan oleh pasien, serta data inspeksi CQC.

Sebuah studi besar yang dilakukan King's Fund menyoroti Muslim di NHS paling banyak mengalami diskriminasi, dibandingkan dengan kelompok agama lainnya.

Berdasarkan studi penjangkauan dan keterlibatan kualitatif Asosiasi Dokter Muslim, dokter Muslim disebut mengalami diskriminasi, prasangka dan pengucilan di tempat kerja, melalui stigma, stereotip, peluang karir yang terbatas dan kurangnya rasa memiliki dan dukungan tempat kerja.

Kebijakan kelembagaan juga disebut bisa diskriminatif terhadap staf Muslim. Kebijakan pencegahan dilaporkan telah menciptakan iklim ketidakpercayaan dan ketakutan. Sebuah survei oleh Huffington Post dan British Islamic Medical Association mengungkap, 80 persen dokter Muslim pernah mengalami kejahatan Islamofobia.

Selain itu, kebijakan aturan berpakaian dapat mencegah wanita dalam mengejar karir spesialis bedah. Selama pandemi, kurangnya APD kemungkinan berkontribusi terhadap infeksi dan kematian berlebih di antara dokter pria Muslim.

Yang lebih mengganggu adalah, meningkatnya kekerasan dan kejahatan kebencian yang menargetkan Muslim di Inggris. Orang dewasa Muslim lebih mungkin menjadi korban kejahatan kebencian bermotif rasial daripada non-Muslim (Home Office, 2018). Tren meresahkan ini meningkat setiap tahun dan termasuk menargetkan wanita Muslim.

Islamophobia Awareness Month (IAM) adalah kampanye yang diadakan setiap November, untuk mendekonstruksi dan menantang stereotip tentang Islam dan Muslim. Kegiatan ini dijalankan dengan tujuan meningkatkan kesadaran dan mendorong pelaporan kejahatan kebencian Islamofobia.

Kampanye ini juga menampilkan kontribusi positif Muslim Inggris kepada masyarakat, serta menyediakan platform bagi orang-orang dari semua latar belakang untuk terlibat dengan Muslim.