Angka Kematian Jamaah Haji Saat Armina Harus Dikurangi

Ahad , 12 Dec 2021, 08:17 WIB Reporter :Ali Yusuf / Redaktur : Muhammad Subarkah
Jamaah haji berjalan menuju bukit berbatu yang dikenal sebagai Gunung Belaskasih, di tanah belakang, di Dataran Arafat, ketika mereka mempraktikkan jarak sosial untuk melindungi diri mereka terhadap virus corona selama ziarah haji tahunan di dekat kota suci Mekah, Arab Saudi, Kamis, 30 Juli 2020. Haji tahun ini diturunkan secara dramatis dari 2,5 juta jamaah menjadi 1.000 orang karena pandemi coronavirus.
Jamaah haji berjalan menuju bukit berbatu yang dikenal sebagai Gunung Belaskasih, di tanah belakang, di Dataran Arafat, ketika mereka mempraktikkan jarak sosial untuk melindungi diri mereka terhadap virus corona selama ziarah haji tahunan di dekat kota suci Mekah, Arab Saudi, Kamis, 30 Juli 2020. Haji tahun ini diturunkan secara dramatis dari 2,5 juta jamaah menjadi 1.000 orang karena pandemi coronavirus.

IHRAM.CO.ID, JAKARTA -- Kepala Pusat Kesehatan Haji Budi Sylvana menyatakan memberikan pendidikan manasik kesehatan haji kepada para jamaah sangat penting untuk mengurangi angka kematian saat puncak haji.

 

Terkait

 “Angka kematian jamaah haji akan meroket di hari ke 30 di mana ada prosesi Armina,” kata Budi melalui keterangan tertulisnya kepada Republika sewaktu materi seminar melalui daring dengan civitas akamedika Universitas Alkhairaat Palu, Rabu (8/12).

 

Pada hari ke-30 ini merupakan puncak rangkaian ibadah haji yang digelar di Arafah, Muzdalifah, dan Mina (Armina). Saat prosesi Armina ini jamaah haji perlu memiliki kesehatan prima agar dapat menjalankan semua rangkaian ibadah hajinya.

 

“Karena itu kita harus meningkatkan pelayanan kesehatan haji, untuk mencegah kematian jamaah haji,” ujarnya.

 

Budi mengatakan, salah satu teori yang dapat mengalahkan pandemi saat ini adalah dengan pendidikan atau Educate, Educate and Educate. Dia menegaskan, edukasi ini tidak selalu identik dengan orang yang well educated (berpendidikan).

 

“Tidak perlu ilmu yang sangat tinggi dalam kesehatan haji, tetapi diperlukan edukasi yang benar bagi jemaah haji,” katanya.

 

Budi mengatakan, antrean jamaah haji di Indonesia sudah cukup panjang, misalnya di Sulawesi Tengah waktu tunggu sudah mencapai 22 tahun. Masa tunggu yang panjang ini dapat mempengaruhi kesehatan jamaah haji secara pribadi.

 

“Pada saat ibadah haji kita memberangkatkan jamaah haji yang sehat, kita mengharapkan agar jamaah haji tersebut akan kembali ke Indonesia dalam keadaan sehat juga,” katanya.

 

Selnjutnya, Budi menyampaikan empat hal sebagai harapan kesehatan haji ke depan. Pertama, memperkuat manasik kesehatan haji untuk meningkatkan status kesehatan jamaah. Kedua, keterlibatan semua pihak dalam mewujudkan istithaah kesehatan haji. Ketiga, pelaksanaan vaksin meningitis secara menyeluruh pada jamaah haji. Keempat, penerapan protokol kesehatan secara konsisten.

 

Pada kesempatan yang sama, Rektor Universitas Alkhairaat Palu Dr. Umar Alatas, S.PI, M.Si, menyampaikan, kegiatan kuliah umum yang dihadiri Kepala Pusat Kesehatan Haji Budi Sylvana ini sebagai bentuk Tri Dharma Perguruan Tinggi Universitas Alkhairaat. Tema pada kuliah umum ini tentang kebijakan kesehatan haji.

 

“Di mana kita ketahui bahwa Indonesia merupakan negara muslim terbesar di dunia, karena adanya pandemi COVID-19, maka Pemerintah Indonesia mengumumkan pembatalan keberangkatan haji bagi jamaah haji Indonesia pada tahun 2020 dan 2021,” katanya.

 

Dia berharap, tahun ibadah haji dapat diselenggarakan pada tahun 2022. Untuk itu penting sekali semua pihak mengetahui program-program pemerintah dalam menyukseskan operasional haji tahun 2022 termasuk program Pusat Kesehatan Haji Kementerian Kesehatan tentang manasik kesehatan haji.

 

“Insya Allah pada tahun 2022 haji dapat dilaksanakan oleh jemaah haji Indonesia. Maka dari itu penting sekali kita mendengarkan kebijakan penyelenggaraan kesehatan haji dari Kementerian Kesehatan untuk tahun 2022, sesuai dengan amanat Undang-Undang Nomor 8 tahun 2019 tentang Penyelenggaraan Haji dan Umrah,” katanya.

 

Sementara itu Wakil Walikota Palu, dr. Reny A. Lamadjido, Sp.PK, M.Kes mendapat kesempatan menyampaikan sambutannya. Reny bersyukur lembaga pendidikan dapat bersinergi dengan pemerintah menyukseskan penyelenggaraan haji tahun 2022.

 

“Alhamdulillah saat ini kita bisa melakukan sinergitas di mana tenaga-tenaga muda ini dapat memberikan kontribusi yang nyata dalam pembangunan kesehatan di Kota Palu, sehingga diharapkan para mahasiswa lulusan dari Universitas Alkhairaat setelah lulus dapat memberikan sumbangsih dalam pembangunan Kota Palu dan bermanfaat bagi masyarakat Kota Palu,” katanya.

 

Acara dilanjutkan dengan penandatanganan MoU antara Kepala Pusat Kesehatan Haji Kementerian Kesehatan dan Rektor Universitas Alkhairaat Palu.

 

 

 

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini