Kesiapan Garuda Berangkatkan Jamaah Umroh

Senin , 13 Dec 2021, 18:34 WIB Reporter :Dea Alvi Soraya/ Redaktur : Muhammad Hafil
Kesiapan Garuda Berangkatkan Jamaah Umroh. Foto: Angkutan Ibadah Haji.  Pesawat Garuda Indonesia  saat keberangkatan pertama jamaah calon haji di Bandara Adi Soemarmo, Boyolali, Jawa Tengah, Minggu (7/7/2019).
Kesiapan Garuda Berangkatkan Jamaah Umroh. Foto: Angkutan Ibadah Haji. Pesawat Garuda Indonesia saat keberangkatan pertama jamaah calon haji di Bandara Adi Soemarmo, Boyolali, Jawa Tengah, Minggu (7/7/2019).

IHRAM.CO.ID,JAKARTA—Kementerian Agama (Kemenag) mengumumkan bahwa Indonesia akan memberangkatkan jamaah umrah pertama, setelah dihentikan sementara selama pandemi, pada 23 Desember mendatang. Direktur Bina Umrah dan Haji Khusus Kemenag Nur Arifin mengatakan, akan ada sekitar 240 jamaah yang akan diberangkatkan, mereka merupakan para pengurus Penyelenggara Perjalanan Ibadah Umroh (PPIU) yang disiapkan untuk melakukan observasi dan mempelajari segala ketentuan teknis umrah.

 

Terkait

Sementara itu, PT Garuda Indonesia (GIAA) menyambut baik pengumuman Kemenag untuk memberangkatkan kembali jamaah umroh ke Arab Saudi. Direktur Utama Garuda Indonesia Irfan Setiaputra mengatakan Garuda Indonesia selalu siap untuk melayani penerbangan ke tanah suci. 

Baca Juga

“Kita selalu siap kok, hanya perlu menunggu finalisasi teknis,” ujar Irfan kepada Republika, Senin (13/12). 

Pengumuman ini merupakan angin segar bagi maskapai nasional yang beberapa waktu belakangan diterpa isu pailit ini. Pembukaan kembali perjalanan umroh akan meningkatkan pertumbuhan pergerakan maskapai plat merah, khususnya Garuda Indonesia yang pada 2020 melorot tajam hingga 73 persen secara year on year

“Tentu ini menjadi angin segar bagi kami, dan kami sudah mempersiapkan diri, selalu,” ujarnya. 

Dia mengatakan, pihaknya kini tengah melakukan penyesuaian armada sesuai dengan kebutuhan, serta kesiapan operasional lainnya untuk memastikan jamaah Indonesia dapat merasa lebih aman dan nyaman dalam perjalanan menuju tanah suci. Adapun persiapan yang saat ini terus dilakukan adalah komunikasi dan diskusi intensif dengan para asosiasi penyelenggara perjalanan umrah, untuk membahas berbagai aspek penunjang kesiapan layanan penerbangan umrah. 

“Hanya perlu tunggu finalisasi, diskusi terus kami lakukan dengan para travel umrah terkait jumlah maskapai yang diperlukan hingga proses karantina 10 hari ketika kembali ke tanah air,” jelas Irfan. 

“Kami juga selalu memastikan kesiapan secara menyeluruh karena kami memahami antusiasme para calon jamaah yang telah menantikan keberangkatan ke tanah suci setelah dua tahun terakhir ditutup karena pandemi,” sambungnya. 

“Kami berupaya memastikan para jamaah bisa kembali merasakan layanan terbaik dalam perjalanan menuju tanah suci hingga kembali ke tanah air,” pungkasnya. 

Pemberangkatan pertama pada 23 Desember menjadi pembuktian bahwa Indonesia mampu memberangkatkan jamaah umrah yang benar-benar sehat, tertib, dan tidak ada masalah atau kasus seperti yang pernah terjadi. Indonesia sebelumnya sempat memberangkatkan jamaah umrah di masa pandemi. Namun, Saudi akirnya melarang masuknya jamaah umroh dari Indonesia karena sejumlah persoalan. 

Saat ini, daftar jamaah umroh sudah dikirimkan ke Kemenag. Kendati demikian, masih ada kendala mengenai pembukaan proses visa dan pemesanan maskapai penerbangan. Direktur Bina Umrah dan Haji Khusus Kemenag Nur Arifin optimistis permasalahan itu bisa terselesaikan sebelum masa keberangkatan. 

Kemenag terus melakukan koordinasi dengan berbagai pihak terkait agar visa umrah bisa segera dibuka. Hal itu antara lain dengan memfinalkan integrasi Siskopatuh dengan aplikasi PeduliLindungi dan Tawakkalna. Kemenag juga berkoordinasi dengan pengelola platform provider visa Saudi. 

Pemberangkatan umrah pada 23 Desember akan menggunakan sistem satu pintu. Jamaah berangkat dari Bandara Soekarno-Hatta. Selama 1x24 jam sebelum berangkat, jamaah harus tinggal di Asrama Haji Pondok Gede untuk skrining kesehatan, seperti cek kesehatan, cek sertifikat vaksin, dan PCR.

"Ada standardisasi skrining kesehatan oleh Kemenkes. Tentu juga berkoordinasi dengan Kemenkes Arab Saudi, misalnya rumah sakit yang memiliki kewenangan melakukan PCR adalah rumah sakit yang mendapat rekomendasi dari Arab Saudi," katanya. 

Arifin mengungkapkan, salah satu hal yang masih menjadi keluhan asosiasi adalah mengenai peraturan karantina 10 hari bagi jamaah umrah setibanya di Indonesia. Apalagi, seluruh biaya karantina menjadi beban jamaah. Berbagai hal tersebut membuat banyak calon jamaah umroh mengundurkan diri. 

"Ini sangat memberatkan jamaah. Karena jamaah harus karantina 14 hari, yaitu sehari sebelum berangkat, tiga hari setiba di Saudi, dan 10 hari setiba di Indonesia," ujar dia.

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini