Rabu 29 Dec 2021 17:55 WIB

Dubes Pertama Israel untuk Bahrain Resmi Bertugas

Eitan Na’eh bahagia mendengar lagu kebangsaan Israel di Istana Bahrain.

Rep: Kamran Dikarma/ Red: Teguh Firmansyah
Sebuah pesawat Gulf Air Kerajaan Bahrain yang membawa delegasi pejabat dari Bahrain mendarat di Bandara Internasional Ben Gurion, dekat Tel Aviv, Israel, 01 Desember 2020. Media melaporkan bahwa delegasi pejabat Bahrain datang ke Israel untuk keperluan bisnis.
Foto: EPA-EFE/ABIR SULTAN
Sebuah pesawat Gulf Air Kerajaan Bahrain yang membawa delegasi pejabat dari Bahrain mendarat di Bandara Internasional Ben Gurion, dekat Tel Aviv, Israel, 01 Desember 2020. Media melaporkan bahwa delegasi pejabat Bahrain datang ke Israel untuk keperluan bisnis.

REPUBLIKA.CO.ID, MANAMA -- Raja Bahrain Hamad bin Isa Al Khalifa telah menerima surat kredensial diplomatik Eitan Na’eh, duta besar (dubes) Israel pertama untuk negara tersebut, Selasa (28/12). Bahrain diketahui melakukan normalisasi hubungan dengan Tel Aviv pada September tahun lalu.

Na'eh disambut di lapangan parade istana oleh seorang pengawal kehormatan. Selama upacara, lagu kebangsaan Israel dimainkan oleh Royal Orchestra. “Merupakan suatu kehormatan bagi saya untuk menyerahkan kredensial saya kepada Yang Mulia Raja Hamad bin Isa Al Khalifa, semoga Tuhan melindunginya, sebagai duta besar pertama Negara Israel untuk Kerajaan Bahrain,” kata Na’eh lewat akun Twitter pribadinya.

Baca Juga

Saat diwawancara Ynet News, Na’eh mengaku bahagia saat lagu kebangsaan Israel dimainkan Royal Orchestra. Dia mengungkapkan, pertemuannya dengan Raja Hamad bin Isa Al Khalifa berlangsung hangat dan ramah.

Sebelum menjabat dubes Israel untuk Bahrain, Na’eh mengemban posisi dubes Israel untuk Uni Emirat Arab. Sama seperti Bahrain, UEA pun ikut menormalisasi hubungan dengan Israel tahun lalu.

Na’eh juga sempat menjabat sebagai dubes Israel untuk Turki. Pada 15 September 2020, Bahrain dan UEA menandatangani perjanjian normalisasi diplomatik dengan Israel. Hal itu tercapai berkat mediasi dan dukungan AS di bawah kepemimpinan mantan presiden Donald Trump.

Kesepakatan normalisasi tersebut dikenal dengan nama Abraham Accords. Selain UEA dan Bahrain, AS pun membantu Israel melakukan normalisasi diplomatik dengan Sudan serta Maroko.

Palestina mengecam kesepakatan damai yang dilakukan empat negara Muslim tersebut. Menurut Palestina, apa yang dilakukan keempat negara terkait merupakan “tikaman” bagi perjuangannya memperoleh kemerdekaan.

 

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement