Sabtu 01 Jan 2022 18:30 WIB

Laporan Peneliti Ungkap Islamofobia di Eropa Kian Memburuk

Kasus Islamofobia di Eropa kian memburuk selama dua tahun terakhir

Rep: Kamran Dikarma/ Red: Christiyaningsih
Protes menentang Islamofobia di Eropa. Kasus Islamofobia di Eropa kian memburuk selama dua tahun terakhir. Ilustrasi.
Foto: Anadolu Agency
Protes menentang Islamofobia di Eropa. Kasus Islamofobia di Eropa kian memburuk selama dua tahun terakhir. Ilustrasi.

REPUBLIKA.CO.ID, ANKARA -- Kasus Islamofobia di Eropa kian memburuk selama dua tahun terakhir. Gerakan politik sentris dan arus utama di Benua Biru dinilai turut melegitimasi penargetan Muslim dengan dalih memerangi ekstremisme.

Hal itu disampaikan laporan bertajuk European Islamophobia Report 2020 yang disusun Enes Bayrakli dan Farid Hafez. Bayrakli adalah profesor hubungan internasional di Turkish-German University yang berbasis di Istanbul. Sementara Hafez adalah ilmuwan politik dari Georgetown University's Bridge Initiative.

Baca Juga

"Melihat kembali enam tahun terakhir, banyak pengamat akan sepakat bahwa keadaan Islamofobia di Eropa tidak hanya tidak membaik, tapi memburuk, jika tidak mencapai titik kritis," kata Bayrakli dan Hafez dalam laporan tahunan yang sudah diterbitkan sejak 2015 itu dikutip laman Daily Sabah, Jumat (31/12).  

Bayrakli mengungkapkan pelecehan terhadap Muslim di dunia maya mengalami peningkatan signifikan. "Ini mengkhawatirkan karena narasi daring tidak tetap daring dan dapat menciptakan iklim serangan fisik terjadi di dunia nyata," ujarnya.

Dalam laporan 2020, misalnya, Bayrakli dan Hafez menemukan banyak berita palsu atau hoaks yang mendiskreditkan Muslim. Narasi yang dibangun antara lain masjid sebagai vektor Covid-19 dan aturan penanganan pandemi diterapkan lebih lunak terhadap Muslim karena kekhawatiran dianggap rasialis.

Berita palsu semacam itu mewakili persimpangan dan perkembangan narasi melawan Muslim yang menjadi tema umum di antara para Islamofobia. Celakanya, media massa arus utama turut berkontribusi pada gagasan yang menghubungkan citra Muslim dengan pandemi. Hal itu seolah melegitimasi kiasan negatif tentang Muslim dan pandemi.

Hafez menguraikan kasus-kasus Islamofobia yang terjadi di sejumlah negara Eropa. Jerman secara keseluruhan telah mendokumentasikan lebih dari 31 ribu kasus kejahatan kebencian. Sebanyak 901 di antaranya merupakan kasus ujaran kebencian dan aksi anti-Muslim.

Prancis mencatatkan 1.142 kasus kejahatan kebencian. Korban dari 235 kasus di antaranya adalah Muslim. "Jadi, daripada menyarankan bahwa kejahatan rasial terhadap Muslim lebih banyak terjadi di Jerman daripada di Prancis, orang lebih cenderung mempertanyakan seberapa serius otoritas kepolisian Prancis mendokumentasikan kejahatan rasial secara umum," kata Hafez.

Muslim di Austria juga menghadapi tahun yang sulit. Di negara tersebut, kasus Islamofobia meningkat dua kali lipat menjadi 812 insiden. Pemerintah di sana dinilai turut terlibat dalam melembagakan Islamofobia.

Laporan Bayrakli dan Hafez mengkritik banyak negara Eropa karena gagal melaporkan insiden Islamofobia sebagai kategori terpisah dari kejahatan kebencian. "Pencatatan kejahatan anti-Muslim atau Islamofobia oleh polisi sebagai kategori terpisah dari kejahatan kebencian (umum) sangat penting untuk mengungkap tingkat sebenarnya dari masalah ini, serta untuk mengembangkan strategi tandingan untuk memeranginya," katanya.

Penyusunan laporan Bayrakli dan Hafez didukung the International Islampohobia Studies and Reserach Association, the Othering and Belonging Institute di University of California, Center for Security, Race, and Rights di Rutgers University, dan the International Islamophobia Studies.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement