Tempat Pelarian Warga Afganistan dari Konflik Pun Ikut Mati

Selasa , 04 Jan 2022, 13:48 WIB Reporter :Dwina Agustin/ Redaktur : Esthi Maharani
Pejuang Taliban, ilustrasi
Pejuang Taliban, ilustrasi

IHRAM.CO.ID, BAMIYAN -- Pemandangan musim dingin di sekitar danau pegunungan di Band-e-Amir di provinsi Bamiyan, Afghanistan tengah sepi dari pengunjung. Padahal, pemandangan yang ditawarkan merupakan salah satu yang terbaik di Afganistan. Warga sekitar pun tak lagi mendapatkan mendapatkan penghasilan dari sektor pariwisata andalan tersebut.

 

Terkait

Setelah dua dekade perang dan menghadapi krisis ekonomi terburuk, runtuhnya industri pariwisata vestigial Afghanistan mungkin hampir tidak diperhatikan. Padahal, Band-e Amir yang letaknya sekitar 3.000 meter di atas permukaan laut dan beberapa jam perjalanan dari situs Buddhis Bamiyan biasanya mampu menarik ribuan pengunjung setiap tahun yang mencari ketenangan dari konflik.

Semua itu berubah sejak tahun lalu, ketika Taliban menyapu satu demi satu provinsi, yang puncaknya pada penggulingan mengejutkan pemerintah yang didukung Barat di Kabul pada Agustus. Peristiwa itu menjerumuskan ekonomi ke dalam krisis ketika bantuan asing mengering.

"Dulu sangat bagus, ada program ski dan kompetisi di musim dingin," kata pemandu wisata yang juga menyewakan kamar kepada pengunjung,  Sayed Reza.

"Dulu ada begitu banyak turis di musim dingin dan musim semi, tetapi sejak Taliban datang, dalam empat bulan terakhir kami tidak melihat turis di Band-e-Amir," katanya.

Provinsi Bamiyan adalah salah satu tempat langka yang tetap terlindung dari konflik yang mengoyak sebagian besar Afghanistan selama 20 tahun terakhir. Wilayah ini mengembangkan budaya yang relatif liberal dengan olahraga gunung memainkan peran penting.

Pemain ski dan pengendara sepeda di lereng dan jalan, serta ribuan piknik dan pengunjung yang menikmati keindahan alam menawarkan visi kedamaian tanpa beban yang sangat kontras dengan kekerasan di tempat lain. "Band-e-Amir adalah lokasi wisata, memiliki danau yang indah dan cuaca yang cerah. Orang-orang senang menghabiskan waktu di sini," kata Reza.

Daerah itu dinyatakan sebagai taman nasional pada 2009, meskipun Bamiyan secara keseluruhan umumnya tetap miskin dan terbelakang. Hanya saja pariwisata yang berlanjut selama tahun-tahun perang telah meninggalkan tanda-tanda kemakmuran yang jelas di desa kecil tepi danau itu.

Reza mengatakan 70 hingga 80 keluarga yang tinggal di desa Band-e-Amir bergantung sepenuhnya pada pariwisata. Tempat ini sudah mengalami penurunan pengunjung yang disebabkan oleh pandemi. Krisis ekonomi yang mengikuti kemenangan Taliban telah menyelesaikan sisanya.

"Tahun ini, karena pergantian rezim, kami belum melihat turis di Band-e-Amir," kata Reza.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini