Selasa 11 Jan 2022 19:49 WIB

Irak Pulangkan 111 Keluarga Anggota ISIS dari Suriah

Pemulangan keluarga eks-ISIS memicu kekhawatiran di antara penduduk Irak.

Rep: Kamran Dikarma/ Red: Teguh Firmansyah
Kamp pengungsian Al-Hol di Hassakeh, Suriah yang menampung keluarga anggota militan ISIS.
Foto: Reuters
Kamp pengungsian Al-Hol di Hassakeh, Suriah yang menampung keluarga anggota militan ISIS.

REPUBLIKA.CO.ID, BAGHDAD -- Pemerintah Irak memulangkan 111 keluarga dari warganya yang terkait ISIS dari kamp kelompok Kurdi di Suriah utara. Langkah Irak memboyong mereka kembali telah memicu kekhawatiran di tengah masyarakat.

Seperti dilaporkan Al Arabiya, seorang pejabat Irak yang enggan dipublikasikan identitasnya, pada Senin (10/1/2022) mengungkapkan, ke-111 keluarga itu tiba di Irak akhir pekan lalu. Mereka kemudian dibawa ke kamp Al-Jadaa.

Baca Juga

Sejak Mei 2021, setidaknya 339 keluarga yang terkait dengan kelompok ekstremis ISIS telah dipindahkan dari kamp Al-Hol di timur laut Suriah ke Al-Jadaa. Kamp tersebut turut menampung sekitar 7.500 pengungsi internal.

Langkah Pemerintah Irak memulangkan keluarga dari para terduga atau anggota ISIS telah menimbulkan kekhawatiran di antara penduduk. Mereka cemas ISIS dapat bangkit lagi dan kembali melancarkan aksi-aksi teror.

Irak diketahui telah mendeklarasikan kemenangan atas ISIS pada akhir 2017. Pasukan mereka, dibantu koalisi pimpinan Amerika Serikat (AS), berhasil membunuh, menangkap, dan mengusir para anggota ISIS dari semua daerah perkotaan.

Pada Desember lalu, Pemerintah Irak mengumumkan rencana mereka untuk menutup Al-Jadaa, kamp terakhir yang menampung pengungsi di Irak, di luar wilayah otonomi Kurdistan. Namun rencana itu ditolak dan ditentang masyarakat, khususnya penduduk lokal. Mereka tidak menghendaki ada keluarga dari anggota atau terduga ISIS di lingkungannya.

Menurut Organisasi Internasional untuk Migrasi, sekitar 6 juta warga Irak mengungsi selama ISIS menguasai negara tersebut. Sekitar 1,2 juta di antaranya masih belum bisa pulang, termasuk lebih dari 100 ribu yang tinggal di luar kamp di “tempat informal”.

 

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement