Rabu 12 Jan 2022 15:15 WIB

Surabaya Gencarkan Tes Usap Pelajar Antisipasi Klaster PTM

Gencarnya tes usap pelajar juga dilakukan karena adanya varian Omicron.

Rep: Dadang Kurnia/ Red: Indira Rezkisari
Sejumlah pelajar SMP Negeri 60 Surabaya mengantre untuk tes usap PCR di SMP Negeri 60 Surabaya, Jawa Timur, Selasa (28/9/2021). Dinas Kesehatan Kota Surabaya melakukan tes usap PCR kepada 965 pelajar, sejumlah guru serta tenaga pendidik di sekolah tersebut sebagai upaya antisipasi penyebaran COVID-19 menyusul akan dimulainya pembelajaran tatap muka terbatas di tempat itu.
Foto: ANTARA/Didik Suhartono
Sejumlah pelajar SMP Negeri 60 Surabaya mengantre untuk tes usap PCR di SMP Negeri 60 Surabaya, Jawa Timur, Selasa (28/9/2021). Dinas Kesehatan Kota Surabaya melakukan tes usap PCR kepada 965 pelajar, sejumlah guru serta tenaga pendidik di sekolah tersebut sebagai upaya antisipasi penyebaran COVID-19 menyusul akan dimulainya pembelajaran tatap muka terbatas di tempat itu.

REPUBLIKA.CO.ID, SURABAYA -- Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi mengaku pihaknya terus berupaya memastikan pelaksanaan Pembelajaran Tatap Muka (PTM) 100 persen berjalan dengan aman dan lancar. Salah satu yang dilakukan adalah melakukan tes swab rutin bagi pelajar dalam upaya mencegah penyebaran Covid-19 di lingkungan sekolah.

Eri menyatakan, antisipasi perlu terus digencarkan mengingat pandemi Covid-19 belum berakhir. Apalagi setelah masuknya Covid-19 varian Omicron di Surabaya yang menimbulkan ketakutan di tengah masyarakat. Jika nantinya ada siswa atau elemen sekolah terkonfirmasi positif Covid-19, maka PTM bisa dihentikan sementara.

Baca Juga

"Di SKB 4 Menteri itu juga disebutkan kalau ada sekolah yang kena (Covid-19), maka akan diistirahatkan selama 14 hari," kata Eri di Surabaya, Rabu (12/1).

Eri pun meminta seluruh elemen di lingkungan sekolah tetap berikhtiar dan mematuhi protokol kesehatan, meskipun telah mendapat vaksinasi Covid-19. Eri pun menjelaskan, pelaksanaan PTM 100 persen di Kota Surabaya juga diimbangi dengan pelaksanaan vaksinasi Covid-19 untuk anak usia 6-11 tahun.

Saat ini masih terdapat siswa yang belum mengikuti vaksin, karena mereka terlebih dahulu mengikuti Bulan Imunisasi Anak Sekolah (Bias). "Ini kan tidak boleh langsung divaksin, karena harus menunggu satu bulan dulu. Kami harus menunggu dari aturan vaksin sebelumnya, yakni harus menunggu satu bulan setelah mendapat suntikan vaksin campak, difteri tetanus, dan tetanus," ujarnya.

Eri juga berharap kepada seluruh elemen masyarakat di Kota Surabaya untuk bersama-sama menjaga protokol kesehatan. Ia meyakini, dengan kekuatan dan kepatuhan warga, maka Covid-19 bisa dikendalikan. "Insya Allah Kota Surabaya, ketika ada lonjakan Covid-19, dengan kekuatan dan kepatuhan warga Surabaya sekarang menjadi landai," kata Eri.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement