Kamis 13 Jan 2022 23:31 WIB

Petinggi WHO: Kami Menyaksikan Neraka di Tigray

Bantuan makanan dan obat-obatan ke warga sepenuhnya terblokir.

Rep: Alkhaledi Kurnialam/ Red: Teguh Firmansyah
Pengungsi Tigrayan berkumpul di depan tempat penampungan mereka di Pusat Transisi Hamdeyat dekat perbatasan Sudan-Ethiopia, Sudan timur, Rabu, 24 Maret 2021.
Foto: AP/Nariman El-Mofty
Pengungsi Tigrayan berkumpul di depan tempat penampungan mereka di Pusat Transisi Hamdeyat dekat perbatasan Sudan-Ethiopia, Sudan timur, Rabu, 24 Maret 2021.

REPUBLIKA.CO.ID TIGRAY-- Dirjen WHO, Tedros Adhanom Ghebreyesus mengatakan bahwa konflik di wilayah Tigray yang mencegah akses makanan dan obat-obatan telah menciptakan "neraka" di wilayah tersebut. Dia bahkan menggambarkan situasi itu sebagai penghinaan terhadap kemanusiaan.

Seperti dilansir dari The New Arab, Rabu (12/1), perang selama setahun antara pemerintah Perdana Menteri Ethiopia Abiy Ahmed dan Front Pembebasan Rakyat Tigray (TPLF) telah merenggut nyawa ribuan orang dan membuat lebih dari dua juta orang mengungsi.

Baca Juga

Tedros Adhanom Ghebreyesus yang juga berasal dari Tigray mengatakan bahwa semua upaya WHO untuk mendapatkan akses untuk mengirimkan obat-obatan yang menyelamatkan jiwa ke wilayah yang dilanda perang telah diblokir. “Kami telah mendekati kantor Perdana Menteri, kami telah mendekati Kementerian Luar Negeri, kami telah mendekati semua sektor terkait, tetapi tidak ada izin,” kata Tedros kepada wartawan.

Dia bahkan membandingkan konflik Ethiopia dengan konflik di Suriah dan Yaman. “Akses kemanusiaan bahkan dalam konflik adalah dasarnya.  Bahkan di Suriah, kami memiliki akses, selama konflik terburuk di Suriah.  Di Yaman, sama, kami memiliki akses.  Kami mengantarkan obat.  Di sini [di Tigray] tidak ada apa-apa, ini benar-benar blokade, "ujarnya.

“Saya dari wilayah itu.  Saya dari Tigray, bagian utara Ethiopia.  Tetapi saya mengatakan ini tanpa bias. Tidak ada tempat di dunia ini Anda akan melihat krisis seperti yang terjadi di bagian utara Ethiopia, terutama di Tigray," tambahnya.

 Ia menilai, kurangnya obat-obatan memiliki dampak langsung dan orang-orang banyak sekarat, Kekurangan makanan juga ikut membunuh.  "Selain itu, serangan drone setiap hari membunuh orang dan orang-orang terus hidup di bawah ketakutan.  Dan Anda juga bisa membayangkan bagaimana hal itu berdampak pada kesehatan mental masyarakat,” kata Tedros.

Sebuah serangan udara menargetkan Tigray pekan lalu dan menewaskan sedikitnya 56 warga sipil, termasuk anak-anak, di sebuah kamp untuk orang-orang terlantar.

Serangan udara lain menewaskan sedikitnya 17 warga sipil pada hari Selasa, hari yang sama Presiden AS Joe Biden menelepon Perdana Menteri Ethiopia Abiy Ahmed untuk mengungkapkan keprihatinannya mengenai serangan terhadap warga sipil dan mendesaknya untuk bekerja menuju resolusi damai untuk konflik tersebut.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement