Kamis 20 Jan 2022 07:53 WIB

WHO: Kasus Covid-19 Akibat Omicron Secara Global Naik 20 Persen

Jumlah infeksi baru Covid-19 meningkat di setiap wilayah dunia kecuali di Afrika

Rep: Rizky Jaramaya/ Red: Esthi Maharani
 Direktur Jenderal WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus
Foto: AP/Denis Balibouse/Reuters Pool
Direktur Jenderal WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus

REPUBLIKA.CO.ID, JENEWA -- Jumlah kasus baru Covid-19 secara global naik 20 persen pada pekan lalu menjadi lebih dari 18 juta. Dalam laporan mingguan, WHO mengatakan jumlah infeksi baru Covid-19 meningkat di setiap wilayah dunia kecuali Afrika, yang kasus menurun hampir sepertiga.

Sementara jumlah kematian secara global tetap sama dengan pekan sebelumnya, yaitu sekitar 45 ribu. Kasus Covid-19 yang dikonfirmasi melonjak sekitar 50 persen pada pekan sebelumnya. Awal Januari WHO melaporkan peningkatan terbesar kasus Covid-19 selama satu pekan.

Baca Juga

WHO mengatakan, Asia Tenggara mencatat peningkatan terbesar  kasus Covid-19 pekan lalu, yaitu mencapai 145 persen. Sementara Timur Tengah mengalami kenaikan kasus mingguan sebesar 68 persen.

Peningkatan terkecil tercatat di Amerika dan Eropa, masing-masing sebesar 17 persen dan 10 persen.  Para ilmuwan mengatakan, ada tanda-tanda awal bahwa wabah yang didorong oleh varian omicron mungkin telah mencapai puncak di Inggris dan Amerika Serikat. Menurut para ilmuwan, kasus Covid-19 di kedua negara itu dapat segera turun dengan tajam.

Direktur Jenderal WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus mengatakan, varian omicron yang sangat menular telah menyebar ke seluruh dunia. Dia meminta masyarakat dunia untuk selalu waspada, meskipun gejala yang ditimbulkan dari varian omicron lebih ringan ketimbang varian delta. Tedros mendorong masyarakat agar tidak lalai dan tetap menerapkan protokol kesehatan.

"Kami prihatin dengan dampak omicron pada petugas kesehatan yang sudah kelelahan dan sistem kesehatan yang terbebani,” kata Tedros.

Tedros mengakui bahwa, beberapa daerah sudah keluar dari gelombang omicron. Tetapi dia memperingatkan bahwa belum semua negara dapat keluar dari kesulitan.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement