Sabtu 05 Feb 2022 14:00 WIB

OJK: Omicron Jadi Tantangan Terberat UMKM pada 2022

OJK menyebut merebaknya Omicron akan berdampak pada pembiayaan UMKM

Rep: Novita Intan/ Red: Ichsan Emrald Alamsyah
Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mengungkapkan tantangan yang akan dihadapi para pelaku usaha mikro kecil dan menengah atau UMKM pada 2022.
Foto: Republika/Thoudy Badai
Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mengungkapkan tantangan yang akan dihadapi para pelaku usaha mikro kecil dan menengah atau UMKM pada 2022.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mengungkapkan tantangan yang akan dihadapi para pelaku usaha mikro kecil dan menengah atau UMKM pada 2022.

Ketua Satgas Pengembangan Keuangan Syariah dan Ekosistem UMKM OJK Ahmad Buchori mengatakan merebaknya penyebaran Omicron sejak November 2021 akan cukup berdampak pada penyaluran pembiayaan kepada UMKM. 

“Diperlukan adanya pengendalian pandemi dan program pemulihan terhadap UMKM,” ujarnya dalam keterangan tulis, Sabtu (5/2/2022).

Buchori menyebut munculnya kebijakan The Fed untuk mempercepat laju pengurangan pembelian aset atau tapering juga akan berdampak pada kenaikan suku bunga hingga tiga kali pada 2022. Menurutnya, ini akan turut berdampak pada laju pembiayaan UMKM.

“Perlu adanya peningkatan kesadaran industri jasa keuangan untuk meningkatkan persentase portofolio pembiayaan kepada sektor UMKM hingga 30 persen, baik melalui paket kebijakan maupun mempersiapkan basis data UMKM, yang mampu dimanfaatkan oleh lembaga jasa keuangan untuk mempermudah analisa kredit,” ucapnya.

Buchori melanjutkan tantangan lain dalam pemulihan UMKM nasional yakni terbatasnya produk-produk UMKM lokal yang berorientasi ekspor. Dia menilai diperlukan jalur pembinaan agar mampu mendorong produksi dan adanya permintaan modal yang signifikan.

Ahmad Buchori juga menyebut pandemi Covid-19 menurunkan pendapatan 84,02 persen dari 65 juta pelaku UMKM di Indonesia. Ia merinci setidaknya 8 dari 10 UMKM mengalami penurunan permintaan produk akibat Covid-19.

Sekitar 34 dari 100 perusahaan UMKM mengaku mengalami penurunan harga produk di tengah Covid-19. Sebanyak 62,21 persen UMKM mengalami kendala keuangan untuk membiayai pegawai dan kegiatan operasional. Karena itu setidaknya 7 dari 10 perusahaan UMKM membutuhkan modal usaha sebagai bantuan yang paling dibutuhkan.

"Di samping itu, pemasaran atau penjualan produk Juga menjadi kendala paling banyak dialami di semua skala usaha," kata Ahmad.

Karena itu selain mendorong pembiayaan UMKM, OJK juga melakukan pendampingan dan membantu pemasaran produk UMKM, melalui dorongan kepada industri jasa keuangan untuk mendampingi UMKM, program kampus UMKM bersama, peningkatan literasi digital bagi UMKM, dan mendorong UMKM on boarding di platform digital.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement