Jumat 11 Feb 2022 14:14 WIB

Kabupaten Sleman Tingkatkan Lagi Pembatasan Mobilitas

Sekolah kembali menerapkan 50 persen dan dibagi menjadi dua jam yang berbeda.

Rep: Wahyu Suryana/ Red: Yusuf Assidiq
Ilustrasi Covid-19
Foto: Pixabay
Ilustrasi Covid-19

REPUBLIKA.CO.ID, SLEMAN -- Melalui Instruksi Mendagri dan Menko Marves, Kabupaten Sleman, DIY, kembali masuk PPKM level III. Artinya, Sleman akan kembali meningkatkan pembatasan-pembatasan terkait mobilitas masyarakat.

Misal, untuk sekolah kembali diterapkan 50 persen dan dibagi menjadi dua jam yang berbeda yaitu pada pagi hari dan pada siang hari. Setiap hari cuma boleh ada empat jam, yang ketika dibagi 50 berarti menjadi 30 menit per pelajaran.

Sedangkan, 50 persen lain mengikuti pelajaran secara virtual, seperti melalui Zoom Meeting, diberikan tugas oleh guru-guru yang bersangkutan. Lalu, resepsi pernikahan hanya diizinkan didatangi 25 persen dan penerapan prokes ketat.

"Anjuran Presiden Jokowi cuma dua, percepatan vaksinasi dan prokes tidak boleh abai," kata Bupati Sleman, Kustini Purnomo, Jumat (11/2).

Maka itu, ia menginstruksikan kepada masyarakat Sleman untuk terus meningkatkan kedisiplinan menerapkan protokol kesehatan. Baik untuk diri sendiri, keluarga dan lingkungan, serta menegakkan pengawasan dari kalurahan maupun kapanewon.

Termasuk, lanjut Kustini, menggerakkan kembali satgas-satgas sampai ke tingkat kapanewon maupun kalurahan. Selain itu, ia menerangkan, tempat-tempat ibadah diizinkan dipakai dengan kapasitas 50 persen dan penerapan prokes secara ketat.

Saat ini, ia mengungkapkan, capaian vaksinasi dosis pertama anak-anak 91,61 persen, dan untuk dosis kedua mencapai 31,39 persen. Sedangkan, dosis pertama untuk umum dan lansia sudah mencapai 98 persen dan dosis kedua 90,4 persen.

"DIY jika dilihat kurang tracingnya, sehingga diharap jika ada yang positif tracing langsung digerakkan bersama," ujarnya.

Bupati pun mengingatkan, selain klaster-klaster sekolah, di Sleman sudah ada pula dua klaster padukuhan dan tiga klaster perkantoran. Laporan dari Dinas Pendidikan Kabupaten Sleman, sebagian besar mereka yang terpapar baru dari luar kota. "Jadi, nanti kalau mau bepergian sekolah harus melakukan swab terlebih dulu," kata dia.

Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular Dinas Kesehatan Kabupaten Sleman, Khamidah Yuliati menuturkan, pandemi Covid-19 masih terjadi walau memasuki varian Omicron. Karenanya, vaksinasi akan terus ditingkatkan.

Ia menekankan, untuk vaksinasi tahap ketiga atau booster persentase capaian Kabupaten Sleman sudah mencapai target yang ditentukan. Meski begitu, Yuli mengingatkan, menekan penularan vaksinasi memang bukan cara satu-satunya.

"Yang paling penting prokes, tidak perlu khawatir dengan Omicron yang begitu cepat, tingkat kegawatdaruratannya tidak setinggi Delta, juga tidak boleh abai," ujar Yuli.

Sementara itu, Kepala Bidang Logistik dan Kedaruratan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Sleman, Bambang Kuntoro menambahkan, dari total 101 bed dari dua isoter di Sleman kini terisi 54 dan tersisa 47. Jadi, sekitar 53,47 persen. "Di Asrama Haji yang tersedia 137 bed, terisi 48 sisa 49, jadi 35,04 persen," kata Bambang

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement