Rabu 02 Mar 2022 21:47 WIB

Kepala BIN: Pemindahan Ibu Kota adalah Panggilan Sejarah

Kepala BIN menyatakan pemindahan ibu kota ada sajak era Bung Karno

Rep: Rizkyan Adiyudha/ Red: Nashih Nashrullah
Kepala Badan Intelijen Negara (BIN), Budi Gunawan, menyatakan pemindahan ibu kota ada sajak era Bung Karno
Foto: Republika TV/Muhamad Rifani Wibisono
Kepala Badan Intelijen Negara (BIN), Budi Gunawan, menyatakan pemindahan ibu kota ada sajak era Bung Karno

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Kepala Badan Intelijen Negara (BIN) Budi Gunawan meyakini bahwa pemindahan ibu kota negara (IKN) bakal membuat Indonesia lebih maju dan kuat.

Menurutnya, keputusan pemindahan IKN bukan keputusan tergesa-gesa namun ujung dari evolusi gagasan yang menjadi sebuah keputusan.

Baca Juga

Budi mengatakan, gagasan pemindahan IKN telah melewati sejumlah kajian dan penelitian. Dia melanjutkan, hal itu dilakukan baik dari aspek geografis, sosiokultural, ekonomi maupun ketahanan dan keamanan.

"Dari segala aspek tersebut, paradigma Indonesia sentris yang diwujudkan dengan pemindahan Ibu Kota Negara ke Kalimantan ini diyakini akan membawa Indonesia menjadi Bangsa yang lebih kuat dan maju,” kata Budi Gunawan dalam keterangan, Rabu (2/3/2022). 

Dia mengatakan, pemindahan IKN sudah ada sejak era Bung Karno dan terus diwacanakan di era-era setelahnya. Artinya, sambung dia, pemindahan itu merupakan panggilan sejarah dari para pemimpin bangsa ini.

Dia melanjutkan, pemindahan IKN juga akan menihilkan anggapan orientasi pusat pertumbuhan bertumpu di Jawa alias Jawa sentris. Dia mengatakan, pemindahan IKN akan mengadopsi keadilan dan kesejahteraan untuk semua bangsa Indonesia.

Mantan Rektor Universitas Indonesia (UI) Der Soz Gumilar Rusliwa Somantri menilai, langkah memindahkan IKN ke Penajam Paser Utara, Kalimantan Timur merupakan keputusan yang tepat.

Menurutnya, selama ini kebijakan pembangunan Indonesia terkesan Jawa sentris. "Hal ini sudah menjadi beban bagi bangsa ini dalam kurun yang sangat panjang," katanya.

Dia menjelaskan, beban sejarah Jawa sentris tersebut tidak bisa diartikan semata dari aspek fisik bahwa Jakarta sudah terlalu padat atau terlalu macet. Tapi, sambung dia, juga dari aspek sosio-kultural, ekonomi bahkan hingga ideologi.

"Rajut kebangsaan kita tidak bisa sempurna bila tidak digeser ke orientasi yang ideal, yaitu Indonesia sentris," katanya.

 

 

 

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement