Jumat 04 Mar 2022 18:16 WIB

ICANN Tolak Permintaan Ukraina Blokir Internet di Rusia

Pencabutan akses internet dinilai bisa mengakibatkan Splinternet.

Rep: Meiliza Laveda/ Red: Dwi Murdaningsih
Jaringan internet (ilustrasi).
Foto: Www.freepik.com
Jaringan internet (ilustrasi).

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA – Selama invasi Rusia, Ukraina telah meminta Internet Corporation for Assigned Names and Numbers (ICANN)  untuk mencabut ranah internet tingkat teratas (TLD), seperti .ru, .рф, dan .su dicabut bersama Secure Socket Layer (SSL). ICANN adalah organisasi yang berwenang memberi IP adress untuk internet.

Permintaan itu datang dari Perwakilan Ukraina ICANN Andrii Nabok dan Wakil Perdana Menteri Ukraina Mykhailo Fedorov. Namun, ICANN menolak permintaan itu.”ICANN siap untuk terus mendukung keamanan, stabilitas, dan ketahanan internet Ukraina dan global tetapi tidak untuk pencabutan internet,” kata CEO dan presiden ICANN Göran Marby.

Baca Juga

Fedorov juga telah meminta registri Internet regional untuk Eropa, Timur Tengah, dan sebagian Asia Tengah RIPE NCC untuk mencabut hak Rusia dan Local Internet Registries (LIR) yang ditetapkan dan memblokir domain name server (DNS).

Namun, RIPE juga menolak permintaan tersebut. Dewan Eksekutif RIPE NCC menyatakan sarana untuk berkomunikasi tidak boleh terpengaruh oleh perselisihan politik domestik, konflik internasional atau perang. Ini termasuk penyediaan sumber daya penomoran Internet yang terdaftar dengan benar.

Presiden dan CEO Internet Society Andrew Sullivan memperingatkan jika ICANN mengabulkan permintaan Ukraina, hal itu dapat menyebabkan Splinternet, atau pecahnya internet di sepanjang batas geografis, politik, komersial, dan atau teknologi. Tentunya ini akan memiliki efek negatif besar.

“Panggilan untuk memutuskan Rusia dari internet merupakan kesalahan. Sebab, Splinterne adalah kebalikan dari bagaimana internet dirancang dan dimaksudkan untuk berfungsi. Kita harus menolak panggilan ini,” kata Sullivan, dilansir ZDNet, Jumat (4/3/2022).

Sementara itu, Marby juga menyetujui argument Sullivan. “Dalam misi kami, kami menjaga netralitas dan bertindak untuk mendukung internet global. Misi kami tidak mencakup mengambil tindakan hukuman, mengeluarkan sanksi, atau membatasi akses terhadap segmen internet terlepas dari provokasi,” ujarnya.

Di sisi lain, kelompok tidak resmi seperti Anonymous telah melawan Rusia dalam serangan siber. Anonymous mengklaim telah menghapus berbagai situs web, termasuk pembangkit listrik tenaga minyak Rusia Gazprom, Kantor berita negara Rusia RT, dan lembaga pemerintah Rusia dan Belarusia, termasuk Kremlin.

Banyak perusahaan juga bergabung melawan Rusia. Misal, Presiden Microsoft Brad Smith mengumumkan Windows akan membantu Ukraina melawan serangan siber Rusia. “Meskipun kami adalah perusahaan, Microsoft siap melindungi Ukraina dari serangan siber,” kata Smith.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement