Rabu 09 Mar 2022 09:07 WIB

Afrika Selatan Berpeluang Dapat Keuntungan dari Inflasi Pangan

Afrika Selatan merupakan eksportir jagung tapi mengimpor sekitar 40 persen gandum

Rep: Lintar Satria/ Red: Esthi Maharani
Sejak Rusia menyerang Ukraina pada 24 Februari lalu harga komoditas termasuk jagung dan gandum naik drastis.
Foto: Antara/Arnas Padda
Sejak Rusia menyerang Ukraina pada 24 Februari lalu harga komoditas termasuk jagung dan gandum naik drastis.

REPUBLIKA.CO.ID, CAPE TOWN — Pakar menilai Afrika Selatan memang akan merasakan dampak dari kenaikan harga pangan yang disebabkan invasi Rusia ke Ukraina. Tapi negara itu juga berpeluang meraih keuntungan dari kenaikan harga melalui ekspor jagung.

Sejak Rusia menyerang Ukraina pada 24 Februari lalu harga komoditas termasuk jagung dan gandum naik drastis. Rusia dan Ukraina masing-masing menyumbang sekitar 29 dan 19 persen ekspor gandung dan jagung dunia.

Perang menyebabkan pelabuhan-pelabuhan Ukraina ditutup dan pasokan gandum Rusia dibekukan sanksi-sanksi Barat. Negara-negara importir khawatir terbatasnya pasokan akan menimbulkan kelangkaan.

Afrika Selatan merupakan eksportir jagung tapi mengimpor sekitar 40 persen gandum. Kepala ekonom Kamar Dagang Pertanian Afrika Selatan Wandile Sihlobo mengatakan kecil kemungkinan Afrika Selatan mengalami kelangkaan.

"Di Afrika Selatan, dampak jangka pendek perang ini terjadi pada transmisi harga dan tidak membatasi ketersediaan komoditas," kata Sihlobo dalam catatan mingguan, Selasa (8/3).

Tahun lalu Afrika Selatan menanam 16.315 juta ton jagung, ini merupakan pertanian jagung terbesar kedua di dunia. Data yang dirilis pemerintah pekan lalu memprediksi akan ada penurunan produksi sebanyak 11 persen tahun ini. Tapi diproyeksikan 14,538 juta ton masih bisa diakses untuk konsumsi domestik.  

Sementara itu Grain SA menunjukkan pada 25 Februari lalu Afrika Selatan sudah mengimpor 40 persen kebutuhan gandumnya. Tidak ada satu pun berasal dari Rusia atau Ukraina. Afrika Selatan mengimpor gandum dari Lithuania, Argentina, Polandia, Australia, Latvia dan Amerika Serikat.

"Konflik berdampak pada harga gandum internasional yang mana juga mencerminkan harga gandum Afrika Selatan," kata ekonomi Grain SA Luan van der Walt.

Ia mengatakan Afrika Selatan dapat memiliki peluang dari ekspor jagung bila pasokan dari Ukraina masih tertahan.

"Dalam banyak kasus, Afrika Selatan harus bersaing dengan Ukraina terutama dalam hal ekspor jagung. Oleh karena itu, ini dapat menghadirkan lebih banyak peluang ekspor jagung bagi Afrika Selatan," kata van der Walt.

sumber : Reuters
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement