Kamis 07 Apr 2022 12:10 WIB

Ukraina: Kuburan Massal Berisi 150 Hingga 300 Jenazah

Kuburan massal yang digali berisi sekitar 150 hingga 300 jenazah

Rep: Lintar Satria/ Red: Esthi Maharani
Tangan mayat muncul dari kuburan massal di Bucha, di pinggiran Kyiv, Ukraina, Ahad, 3 April 2022.
Foto: AP/Rodrigo Abd
Tangan mayat muncul dari kuburan massal di Bucha, di pinggiran Kyiv, Ukraina, Ahad, 3 April 2022.

REPUBLIKA.CO.ID, KIEV -- Pemerintah negara-negara Barat mengecam pembunuhan warga sipil di Kota Bucha, Ukraina, sebagai kejahatan perang. Kiev mengatakan kuburan massal yang digali di sebuah gereja di kota itu berisi sekitar 150 hingga 300 jenazah.

Rusia mengatakan invasi yang mereka sebut "operasi militer khusus" dirancang untuk demiliterisasi dan "denazifikasi" Ukraina. Pemerintah Ukraina dan negara-negara Barat membantahnya sebagai alasan untuk menggelar invasi.

Baca Juga

Staf Jenderal Angkatan Bersenjata Ukraina mengatakan Rusia siap menggelar serangan penuh untuk menguasai wilayah-wilayah bagian timur Ukraina yang memisahkan diri, Donetsk dan Luhansk. Moskow juga melanjutkan kepungan di Kota Mariupol di mana puluhan ribu warga sipil masih terjebak di dalamnya.

Pihak berwenang Ukraina mengatakan mereka tidak dapat membantu masyarakat melakukan evakuasi atau mengirimkan bantuan kemanusian ke medan pertempuran di sebelah timur Kota Izyum. Karena masih dikuasai Rusia sementara pertempuran di semakin buruk.

Banyak masyarakat di Kota Derhachi sebelah utara Kharkiv yang terletak dekat perbatasan Rusia, memutuskan untuk pergi. Gedung-gedungnya sudah hancur dihantam arteleri Rusia. Kharkiv sendiri hancur oleh serangan udara dan roket sejak awal invasi.

Mykola, ayah dua anak yang menolak menyebutkan nama belakangnya mengatakan setiap malam ia dapat mendengar pengeboman. Ia dan keluarganya terus-menerus berlindung di koridor rumahnya.

"(Kami akan pergi) ke mana pun yang tidak ada ledakan, di mana anak-anak tidak perlu mendengarnya," kata Mykola sambil memeluk putranya dan menahan tangis.

Amerika Serikat (AS) memberlakukan sanksi baru pada Rusia yang mengincar dua putra Presiden Rusia Vladimir Putin dan Sberbank yang memegang sepertiga total aset bank di Rusia dan Alfabank, institusi keuangan terbesar Rusia. Tapi tidak menjatuhkan sanksi pada transaksi energi.

"(Sanksi perbankan) pukulan langsung pada masyarakat (dan) warga biasa Rusia," kata Duta Besar Rusia untuk AS Anatoly Antonov seperti dikutip kantor berita Tass.

Inggris juga membekukan aset-aset Sberbank dan mengatakan akan melarang impor batubara Rusia pada akhir tahun ini. Tapi Eropa kesulitan melakukan hal yang sama pasalnya 40 persen kebutuhan gas alam Uni Eropa berasal dari Rusia dan sepertiga kebutuhan minyaknya dipenuhi Rusia. Nilainya sekitar 700 juta dolar AS per hari.

Jerman yang merupakan perekonomian terbesar Rusia mengandalkan gas Rusia untuk kebutuhan energinya. Berlin memperingatkan walaupun mereka mendukung mengakhiri impor energi Rusia secepat mungkin tapi hal itu tidak dapat dilakukan dalam semalam.

Walaupun didera sanksi tapi rubel Rusia melanjutkan proses pemulihannya. Rabu (6/4) kemarin rubel berada di level sebelum invasi, mengabaikan kekhawatiran potensi utang internasional karena mereka membayar pemilik obligasi dolar dengan rubel.

sumber : Reuters
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement