Senin 11 Apr 2022 06:25 WIB

Pemilih Prancis Mulai Berikan Hak Suara

Marine Le Pen diprediksi akan menjadi ancaman terkuat Presiden Emmanuel Macron.

Rep: Lintar Satria/ Red: Esthi Maharani
Pemimpin sayap kanan Prancis Marine le Pen diprediksi akan menjadi ancaman terkuat Presiden Emmanuel Macron.
Foto: AP/Laszlo Balogh
Pemimpin sayap kanan Prancis Marine le Pen diprediksi akan menjadi ancaman terkuat Presiden Emmanuel Macron.

REPUBLIKA.CO.ID, PARIS -- Pemilih Prancis akan memberikan hak suara dalam putaran pertama pemilihan presiden, Ahad (10/4/2022) waktu setempat. Kandidat dari sayap kanan Marine Le Pen diprediksi menjadi ancaman terkuat Presiden Emmanuel Macron.

Tingginya suara mengambang diperkirakan memicu persaingan ketat. Angka partisipasi pemilih atau turnout diprediksi turun dari 28,5 persen dalam pemilihan tahun 2017 lalu menjadi 25,5 persen.

Baca Juga

Tempat pemungutan suara akan tutup pukul 20.00 waktu setempat. Kemudian perkiraan hasil awal atau exit poll yang biasanya cukup dapat diandalkan akan diumumkan. Jajak pendapat sebelum kampanye memperkirakan putaran pertama yang diumumkan 24 April akan menghasilkan dua kandidat terkuat yakni Macron dan Le Pen.

Sampai satu pekan yang lalu jajak pendapat mengindikasi Macron yang pro-Uni Eropa akan menang mudah. Suaranya naik karena diplomasi aktifnya dalam mendukung Ukraina, pemulihan ekonomi dan lemahnya oposisi yang terpecah.

"Saya pikir hanya dia yang hari ini mendorong untuk membangun Prancis di masa datang," kata manajer sumber daya manusia, Armelle Savidan usai memberikan suaranya pada Macron.

Namun Macron cukup telat dalam melakukan kampanye dan hanya menggelar satu kampanye besar yang sebagian besar pendukungnya pun kecewa. Ia fokus pada rencana tidak populer untuk menaikan usia pensiun.

Bertolak belakang Le Pen yang anti-imigran menggelar kampanye selama berbulan-bulan. Fokus pada masalah tingginya biaya hidup, ia juga diuntungkan kegagalan kandidat ekstrem kanan Eric Zemmour.

"Kami sudah lama dikenal atas pandangan kami pada imigrasi, tapi kini yang kami majukan ada masalah sosial di negara ini," kata Walikota Henin-Baemount dari Partai Nasional yang dipimpin Le Pen.

Kenaikan harga bahan bakar dan makanan yang diperparah perang Ukraina menjadi penekanan bagi banyak pemilih. Di Desa La Villetelle, Delphine Boyer, seorang pengasuh anak berusia 39 tahun memilih kandidat moderat kanan, Valerie Pecresse. Ia mengatakan daya beli dan perasaan tidak ada yang menganggap wilayah pedesaan mengkhawatirkan.

Jajak pendapat terakhir menunjukkan Macron akan memimpin putaran pertama dan menang. Tapi juga ada indikasi Le Pen akan mempersempit jarak suara dan menempatkannya dengan margin of error.

sumber : Reuters
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement