Senin 11 Apr 2022 14:26 WIB

Beragama Mencerahkan untuk Peradaban Berkemajuan

Kehidupan manusia saat ini mengalami persoalan ruhaniah yang serius.

Rep: Wahyu Suryana/ Red: Yusuf Assidiq
Ketua Umum PP Muhammadiyah, Prof Haedar Nashir
Foto: Tangkapan Layar
Ketua Umum PP Muhammadiyah, Prof Haedar Nashir

REPUBLIKA.CO.ID, YOGYAKARTA -- Berbagai persoalan yang terjadi dalam kehidupan manusia saat ini perlu dibarengi dengan meng­hadirkan kembali agama sebagai basic trust hidup. Apabila sese­orang beragama maka dia akan tahu apa yang sedang dilakukannya di dunia serta dia tahu persis makna hidup dan tindakannya, baik penderitaannya maupun kematiannya.

Sejurus dengan itu, religiusitas dalam Islam tidak semata melihat aspek spiritualitas atau keruhanian saja, tapi terkoneksi dengan akal. Sehingga, keduanya dapat menjadi satu kesatuan yang saling mendukung dan bukan atau tidak saling bertentangan.

"Dia tahu standar-standar etik dan dasar-dasar moral yang harus diikutinya," kata Ketua Umum Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Prof Haedar Na­shir, dalam Pengajian Rama­dhan yang digelar di kantor PP Muham­ma­di­yah, Yogyakarta, Se­lasa (5/4/2022).

Haedar melihat kehidupan manusia saat ini mengalami persoalan ruhaniah yang serius. Banyak ranah berdimensi metafisik dibuat tek­nis. Kematian dianggap teknis-teknologis, sehingga manusia pasca revolusi saintifik mem­buat proyek pemanjangan usia.

Sejak era modern sampai postmodern dan disrupsi, lanjut dia, permasalahan kemanusia­an dengan berbagai dimensi justru terletak di nalar instrumental serba teknis, teknologis dan pragmatis. Bahkan ancaman perubahan iklim lebih total dan lebih luas ketimbang bom.

"Berbagai bencana alam yang tidak lagi alami bahkan semakin marak. Badai kelapa­ran, laut yang sekarat, udara yang tidak dapat di­­hirup, wabah akibat pemanasan serta, am­bruknya ekonomi semakin terasa. Kemudian juga konflik akibat iklim terkait dengan pe­rubahan iklim global semakin bermunculan," terangnya.

Kondisi kehidupan menurut Haedar sudah diambang kepunahan. Manusia tidak dapat lagi memilih planet karena ini jadi tempat satu-satunya di semesta yang dapat disebut se­bagai rumah. "Akibatnya atas nama kebe­basan pemikir liberal-sekuler, manusia jatuh ke nol dehumanisasi sistematik," ujarnya lebih lanjut.

 

Risalah pencerahan

Menyikapi kondisi yang terjadi sekarang ini, lanjut Guru Besar Ilmu Sosiologi UMY ini, Mu­hammadiyah sebetulnya secara mendalam dan progresif telah memberi jawaban atas ke­hidupan masyarakat modern yang mengalami perubahan dengan segala kecenderungannya. Hal tersebut bisa dilihat dari Risalah Pen­ce­rahan yang dideklarasikan di Tanwir Mu­ham­madiyah 2019 di Bengkulu.

Dalam risalah tersebut, Muhammadiyah menegaskan bahwa beragama harus mence­rah­kan dan mengembangkan pandangan, si­kap, dan praktik keagamaan watak tengahan. Se­lain itu juga membangun perdamaian, meng­hargai kemajemukan, menghormati har­kat martabat kemanusiaan laki-laki maupun perempuan, serta menjunjung tinggi keadaban mulia.

Ia mengungkapkan dalam risalah tersebut ju­ga disampaikan bagaimana memajukan ke­hi­dupan umat manusia yang diwujudkan da­lam sikap hidup amanah, adil, ihsan, tole­ran, kasih sayang terhadap umat manusia, tan­pa diskriminasi. Tidak kalah penting juga adalah menghormati kemajemukan dan pra­nata so­sial sebagai aktualisasi nilai rahmatan lil ala­min.

Beragama yang mencerahkan lanjut Hae­dar akan menghadirkan risalah agama untuk memberikan jawaban atas problem-problem kemanusiaan. Berupa kemiskinan, kebodohan, ketertinggalan, dan persoalan-persoalan lain­nya yang bercorak struktural dan kultural.

"Gerakan pencerahan itu menampilkan agama yang menjawab masalah kekeringan rohani, krisis moral, kekerasan, terorisme, ­kon­flik, korupsi, kerusakan ekologis, dan ben­tuk-bentuk kejahatan kemanusiaan. Beragama juga harus yang mencerahkan dengan kha­zanah Iqra," ungkapnya.

Sebaliknya, lanjut Haedar, kita juga harus menjauhkan diri dari sikap yang saling me­ren­dahkan. Baik itu tajassus, suudhan, mem­beri label buruk, menghardik, menebar keben­cian, bermusuh-musuhan, dan perangai buruk lainnya yang menggambarkan akhlak tercela.

"Kita dapat menyebarluaskan penggunaan media sosial yang cerdas disertai kekuatan literasi yang berbasis tabayun, ukhuwah, ish­lah, dan taaruf yang menunjukkan akhlak mulia," ujarnya lagi.

 

Jihad sebagai ikhtiar

Oleh karena itu, dalam beragama yang mencerahkan, Muhammadiyah memaknai dan mengaktualisasikan jihad sebagai ikhtiar mengerahkan segala kemampuan. Untuk me­wu­judkan kehidupan seluruh umat manusia yang maju, adil, makmur, bermartabat, dan ber­daulat.

Jihad dalam pandangan Islam bukan per­juangan kekerasan, konflik, dan permusuhan. Dengan spirit beragama mencerahkan, umat Islam berhadapan berbagai permasalahan dan tantangan kehidupan kompleks dituntut untuk melakukan perubahan strategi.

Dari perjuangan melawan sesuatu kepada perjuangan menghadapi sesuatu dalam wujud memberi jawaban-jawaban alternatif terbaik mewujudkan kehidupan yang lebih utama. Ia berpendapat, beragama mencerahkan diper­lukan membangun manusia Indonesia.

Hal ini lanjut dia mengandung makna bahwa beragama yang mencerahkan itu yang religius, berkarakter kuat dan berkemajuan untuk hadapi berbagai persaingan peradaban yang tinggi dengan bangsa-bangsa lain. Makna ini penting demi masa depan Indonesia ber­kemajuan yang dicirikan kapasitas mental yang membedakan dari orang lain.

"Seperti keterpercayaan, ketulusan, keju­juran, keberanian, ketegasan, ketegaran, kuat dalam memegang prinsip dan sifat-sifat khu­sus lain," kata Haedar.

Sedangkan, nilai-nilai kebangsaan lain yang harus terus dikembangkan nilai-nilai spiritualitas, solidaritas, kedisiplinan, keman­dirian, kemajuan, dan keunggulan. Beragama mencerahkan diwujudkan dalam kehidupan politik yang berkeadaban luhur.

Disertai jiwa ukhuwah, damai, toleran, dan lapang hati dalam perbedaan pilihan politik. Seraya menurut Ketua Umum PP Muham­ma­diyah ini, kita dijauhkan berpolitik yang meng­halalkan cara, menebar kebencian dan per­musuhan, politik pembelahan yang meng­aki­batkan rusaknya kehidupan kebangsaan.

Muhammadiyah sebagai gerakan Islam yang bermisi dakwah dan tajdid berkomitmen kuat wujudkan Islam sebagai agama mence­rahkan kehidupan.

"Jiwa, alam pikiran, sikap, dan tindakan anggota, kader, dan pimpinan Muhammadiyah niscaya menunjukkan pence­rahan yang Islami, sebagaimana diajarkan oleh Islam serta diteladankan dan dipraktikkan oleh Nabi akhir zaman," tegas Haedar.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement