Kamis 05 May 2022 03:25 WIB

Rusia Tuding Tentara Bayaran Israel Bantu Milisi Azov di Ukraina

Rusia mengatakan, tentara bayaran Israel bertempur bersama resimen Azov

Pemerintah Rusia mengatakan, tentara bayaran Israel bertempur bersama resimen Azov, milisi sayap kanan yang kini menjadi bagian dari Garda Nasional Ukraina.
Foto: AP/Evgeniy Maloletka
Pemerintah Rusia mengatakan, tentara bayaran Israel bertempur bersama resimen Azov, milisi sayap kanan yang kini menjadi bagian dari Garda Nasional Ukraina.

REPUBLIKA.CO.ID, MOSKOW – Pemerintah Rusia mengatakan, tentara bayaran Israel bertempur bersama resimen Azov, milisi sayap kanan yang kini menjadi bagian dari Garda Nasional Ukraina. Saat ini hubungan Moskow dan Tel Aviv tengah dibekap ketegangan menyusul komentar Menteri Luar Negeri (Menlu) Rusia Sergey Lavrov yang menyebut pemimpin Nazi Adolf Hitler memiliki darah Yahudi.

“Tentara bayaran Israel praktis bahu membahu dengan militan Azov di Ukraina,” kata juru bicara Kementerian Luar Negeri Rusia Maria Zakharova saat diwawancara radio Sputnik, Rabu (4/5/2022).

Azov mulai dikenal pada 2014, yakni ketika aktivis sayap kanannya mengangkat senjata untuk memerangi separatis pro-Rusia di wilayah Donbas di timur Ukraina. Namun sejak saat itu, mereka berada di bawah komando militer Ukraina. Saat Rusia menyerang Ukraina pada 24 Februari lalu, Azov sudah bertempur bersama militer Ukraina.

Dengan menyebut tentara Israel berperang bersama Azov, Moskow meningkatkan ketegangan dengan Tel Aviv. Hubungan kedua negara tersebut memanas sejak Menlu Rusia Sergey Lavrov menyebut pemimpin Nazi Adolf Hitler memiliki darah Yahudi. Menlu Israel Yair Lapid mengecam Lavrov atas pernyataannya dan menuntut Rusia meminta maaf.

Baca juga : AS Kerahkan Intelijen untuk Bantu Ukraina Bunuh Jenderal Rusia di Medan Perang

“Pernyataan Menlu Lavrov adalah pernyataan yang tidak dapat dimaafkan dan keterlaluan serta kekeliruan sejarah yang mengerikan. Kami mengharapkan permintaan maaf,” ujar Lapid pada Senin (2/5/2022) lalu.

Dalam sebuah wawancara dengan stasiun televisi Italia yang disiarkan pada Ahad (1/5/2022), Lavrov mengatakan, meski Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky adalah Yahudi, hal itu tidak akan melemahkan Rusia untuk melanjutkan misi “denazifikasi” di Ukraina.

Misi denazifikasi itu dipertanyakan oleh Zelensky. Menurut Lavrov, Zelensky sempat mengajukan argumen tentang jenis Nazisme apa yang dapat Ukraina miliki jika presiden sendiri adalah seorang Yahudi. “Saya bisa saja salah, tapi (Adolf) Hitler juga memiliki darah Yahudi,” ujar Lavrov menanggapi argumen Zelensky.

Baca juga : Ukraina Sahkan Undang-Undang Larang Parpol Pro Rusia

Dalam wawancara dengan stasiun televisi Italia tersebut, Lavrov pun menyampaikan bahwa Zelensky masih memiliki kekuatan untuk mengakhiri perang jika dia berhenti memberikan perintah kriminal kepada pasukan Nazi-nya.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement