Kamis 12 May 2022 17:54 WIB

PM Inggris: Sulit Menormalkan Kembali Hubungan dengan Vladimir Putin

PM mengisyaratkan Inggris enggan menjalani proses normalisasi dengan Putin.

Rep: Kamran Dikarma/ Red: Friska Yolandha
Perdana Menteri Inggris Boris Johnson berbicara selama konferensi pers bersama dengan Presiden Finlandia Sauli Niinisto, di Istana Kepresidenan di Helsinki, Finlandia, Rabu, 11 Mei 2022.
Foto: AP Photo/Frank Augstein, Pool
Perdana Menteri Inggris Boris Johnson berbicara selama konferensi pers bersama dengan Presiden Finlandia Sauli Niinisto, di Istana Kepresidenan di Helsinki, Finlandia, Rabu, 11 Mei 2022.

REPUBLIKA.CO.ID, LONDON -- Perdana Menteri Inggris Boris Johnson mengatakan, normalisasi hubungan dengan Presiden Rusia Vladimir Putin bakal sulit dilakukan setelah keputusannya menyerang Ukraina. Dia mengisyaratkan Inggris enggan menjalani proses tersebut dengan Putin.

“Penyesalan akan menjadi sangat sulit bagi Vladimir Putin sekarang. Tidak ada yang mustahil, saya kira, tapi saya tidak bisa melihat seumur hidup saya bagaimana kita bisa menormalkan kembali hubungan dengan Putin sekarang,” kata Johnson saat diwawancara LBC Radio, Kamis (12/5).

Baca Juga

Dia mengungkapkan, saat ini dunia mempertaruhkan pengulangan seperti tahun 2014, yakni ketika Rusia mencaplok Krimea. "Dunia pada dasarnya berkata, ini mengerikan. Kami mengutuknya, kami mencelanya, dan kami melakukannya. Kami memberikan sanksi, tapi pada saat yang sama, kami membuka negosiasi dengannya tentang jalan ke depan. Putin pada dasarnya menggunakan itu sebagai cara memutar pisau di Ukraina," ujarnya.

“Jika Ukraina melakukan kesepakatan apa pun dengan Putin sekarang, risikonya adalah dia akan melakukan hal yang persis sama dan mereka tahu itu. Jadi, jawaban singkatnya adalah tidak. Tidak ada renormalisasi dan Inggris sangat jelas tentang itu,” kata Johnson menambahkan.

Sebelumnya Putin mengatakan, negaranya berusaha menggunakan setiap kesempatan untuk mengakhiri pertempuran di Ukraina secara damai. Namun dia mengklaim, Moskow tidak diberi kesempatan untuk melakukan hal tersebut. "Jika setidaknya ada satu kesempatan untuk menyelesaikan masalah ini dengan cara lain yang damai, kami pasti akan menggunakan kesempatan ini. Namun, kami tidak diberi kesempatan ini, sama sekali tidak," kata Putin pada Senin (9/5), dilaporkan laman kantor berita Rusia, TASS.

Karena situasinya demikian, kata dia, Rusia tidak memiliki pilihan lain. Dia memuji pasukan Rusia yang bertempur dengan berani, heroik, dan profesional di Ukraina. “Semua rencana sedang dilaksanakan. Hasilnya akan tercapai, tidak ada keraguan tentang hal ini,” ujarnya.

Dalam pidato peringatan Victory Day, yakni kekalahan Nazi Jerman dalam Perang Dunia II, Putin mengatakan, agresi negaranya ke Ukraina perlu dilakukan. Hal itu karena Barat sedang mempersiapkan serangan ke tanah Rusia. Saat berbicara di hadapan para prajurit Rusia di Lapangan Merah, pada Senin lalu, Putin mendorong mereka untuk meraih kemenangan di Ukraina.  “Membela tanah air ketika nasibnya ditentukan selalu suci. Hari ini kalian berjuang untuk rakyat kita di Donbas, untuk keamanan Rusia, tanah air kita,” kata Putin.

Dalam kesempatan itu, Putin mengecam apa yang disebutnya ancaman eksternal untuk melemahkan dan memecah belah Rusia. Dia secara khusus menyinggung ancaman yang diciptakan Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO) di sebelah perbatasan Rusia. Dalam pidatonya, Putin tidak menyinggung atau memberikan penilaian tentang kemajuan dalam pertempuran di Ukraina. Dia pun tak membahas berapa lama kemungkinan peperangan di Ukraina bakal berlanjut.

sumber : Reuters
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement