Kamis 02 Jun 2022 10:17 WIB

Stoltenberg: NATO Siap Berunding Atasi Masalah Keamanan Turki

Semua sekutu NATO tentu saja siap untuk duduk dan mengatasi masalah keamanan Turki

Sekjen NATO mengatakan semua 30 anggota NATO siap berunding untuk mengatasi masalah keamanan Turki terkait dengan keberadaan kelompok teroris PKK
Sekjen NATO mengatakan semua 30 anggota NATO siap berunding untuk mengatasi masalah keamanan Turki terkait dengan keberadaan kelompok teroris PKK

REPUBLIKA.CO.ID., WASHINGTON -- Semua 30 anggota NATO siap berunding untuk mengatasi masalah keamanan Turki terkait dengan keberadaan kelompok teroris PKK, kata Sekretaris Jenderal Jens Stoltenberg pada Rabu (2/6/2022).

Komentar itu muncul ketika Ankara terus memprotes tawaran keanggotaan Finlandia dan Swedia untuk bergabung dengan aliansi transatlantik, dan mempertahankan bahwa kedua negara itu mendukung dan menyediakan tempat yang aman bagi teroris, termasuk anggota YPG/PKK dan lainnya.

"Semua sekutu NATO tentu saja siap untuk duduk dan mengatasi masalah itu, termasuk ancaman PKK terhadap Turki, dan ini adalah ancaman teroris, yang tentu saja, adalah sesuatu yang kami anggap sangat serius," kata Stoltenberg kepada wartawan di State Departemen di mana dia dijamu oleh Menteri Luar Negeri Antony Blinken.

“Kami tahu bahwa tidak ada sekutu NATO lain yang menderita serangan teroris lebih banyak daripada Turki, dan Turki adalah sekutu penting paling tidak karena lokasi geografisnya yang strategis berbatasan dengan Irak dan Suriah,” ujar dia.

Stoltenberg mengatakan dia akan mengumpulkan pejabat senior dari Turki, Swedia dan Finlandia di Brussels "dalam beberapa hari mendatang," menambahkan bahwa dia yakin "kita akan menemukan jalan bersama ke depan."

Sebelumnya pada Rabu, Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan mengatakan Swedia dan Finlandia belum memberikan tanggapan konkrit kepada Ankara yang memenuhi harapannya.

Swedia dan Finlandia secara resmi mendaftarkan diri untuk bergabung dengan NATO pada 18 Mei, sebuah keputusan yang didorong oleh perang Rusia di Ukraina, yang dimulai pada 24 Februari.

Tetapi Turki, anggota lama aliansi, telah menyuarakan keberatan atas tawaran keanggotaan mereka, mengkritik negara-negara tersebut karena menoleransi dan bahkan mendukung kelompok-kelompok teror seperti YPG/PKK dan FETO, kelompok yang bertanggung jawab atas kudeta 2016 yang gagal di Turki.

AS memperingatkan operasi Turki di Suriah

Menlu AS Blinken memperingatkan terhadap operasi Turki di Suriah utara, dengan mengatakan "setiap eskalasi di Suriah utara adalah sesuatu yang akan kami lawan," mempertahankan dukungan Washington untuk "pemeliharaan garis gencatan senjata saat ini."

"Kekhawatiran yang kami miliki adalah bahwa setiap serangan baru akan merusak stabilitas regional seperti itu, memberikan peluang kepada aktor jahat untuk mengeksploitasi ketidakstabilan untuk tujuan mereka sendiri," tutur dia.

“Kami secara efektif terus melakukan perjuangan melalui mitra untuk melawan Daesh, ISIS, di Suriah, dan kami tidak ingin melihat apa pun yang membahayakan upaya yang dilakukan untuk terus menjaga ISIS di dalam kotak yang kami masukkan.”

Erdogan mengatakan Turki akan membersihkan dua wilayah Suriah utara dekat perbatasan Turki dari elemen teroris dalam upaya untuk menghilangkan ancaman teror dari wilayah tersebut.

Pemimpin Turki itu mengatakan operasi itu akan menargetkan wilayah Tel Rifat dan Manbij untuk melindungi bangsa dan penduduk di Suriah utara dari ancaman teror YPG/PKK.

PKK adalah kelompok teroris yang diumumkan oleh AS dan Turki. Tetapi AS bekerja sama terutama dengan YPG, afiliasi PKK Suriah, di Suriah utara untuk melawan Daesh/ISIS di wilayah tersebut dalam sebuah langkah yang terus mengacaukan hubungan bilateral.

sumber : https://www.aa.com.tr/id/dunia/stoltenberg-nato-siap-berunding-atasi-masalah-keamanan-turki/2603597
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement