Senin 13 Jun 2022 15:34 WIB

Deklarasi Solo Kota Damai Menebar Benih Moderasi Beragama

Sebagai tindak lanjut, akan dibentuk Forum Solo Kota Damai.

Rep: Silvy Dian Setiawan/ Red: Yusuf Assidiq
UIN Raden Mas Said Surakarta menyelengarakan Lokakarya Moderasi Beragama
Foto: Dokumen
UIN Raden Mas Said Surakarta menyelengarakan Lokakarya Moderasi Beragama

REPUBLIKA.CO.ID, SOLO -- Universitas Islam Indonesia (UIN) Raden Mas Said Surakarta menyelengarakan Lokakarya Moderasi Beragama 'Solo Kota Damai'. Lokakarya ini digelar dengan tujuan untuk menebar benih moderasi beragama dalam rangka pembangunan masyarakat.

Rektor UIN Raden Mas Said Surakarta, Mudhofir mengatakan, kegiatan tersebut penting dilakukan sebagai perwujudan dari Solo yang didaulat menjadi salah satu dari 10 besar kota paling toleran di Indonesia tahun 2022 berdasarkan riset dari Setara Institute. Kegiatan itu digelar pafa 8-10 Juni 2022 oleh Fakultas Adab dan Bahasa.

Mudhofir mengatakan, radikalisme yang seringkali muncul di Indonesia ini merupakan sebuah penyakit sosial. Sehingga, perlu adanya upaya untuk memberantas radikalisme, terutama di Solo.

"UIN Raden Mas Said Surakarta sebagai agen moderasi beragama harus dapat menggandeng dan bersinergi dengan kelompok dan organisasi masyarakat, untuk memberantas gerakan radikalisme dan terorisme di Solo Raya," kata Mudhofir.

Dekan Fakultas Abad dan Bahasa, UIN Raden Mas Said Surakarta, Toto Suharto, juga menyampaikan terkait riset yang menyimpulkan image negatif terkait Solo. Salah satunya riset yang disampaikan Martin van Bruinessen dalam bukunya yang berjudul Conservative Turn.

 

Selain itu, kata Toto, riset dari UIN Jakarta juga pernah menyebut bahwa di Solo ditemukan masjid yang menyemai benih-benih radikalisme. Begitu pun dengan disertasi Dr KH Abdullah Faishol yang menyebutkan terdapat kelompok, tokoh agama, dan masyarakat yang konsen pada perdamaian di Solo dan jarang diungkap ke publik.

Dalam kegiatan tersebut, beberapa narasumber yang diundang untuk memberikan materi yakni salah satunya Kapolresta Surakarta, Kombes Pol Ade Safri Simanjuntak. Ia juga menceritakan pengalaman dan langkah kongkret kepolisian dalam hal penanganan kekerasan yang mengatasnamakan agama di Solo.

Tidak hanya itu, Ketua Forum Koordinasi Pencegahan Terorisme Jawa Tengah, Syamsul Ma’arif, dan Ismail Fajrie Alatas dari New York University juga turut mengisi lokakarya tersebut. Syamsul Ma’arif sendiri menekankan perlu adanya sinergitas semua organisasi masyarakat dan tokoh-tokoh.

Hal ini dalam rangka untuk memperkuat moderasi beragama, khususnya di Solo. Sementara itu, Ismail Fajri Alatas juga memberikan konsepsi mengenai Islam, kota, dan kekerasan.  

Lokakarya ini ditutup dengan pembacaan bersama Deklarasi Pancasatya Solo Kota Damai yang dipimpin KGPH Dipokusomo dan diikuti oleh seluruh peserta. Lokakarya dihadiri oleh peserta dari berbagai organisasi masyarakat, tokoh agama, tokoh masyarakat, dan akademisi.

Sebagai tindak lanjut, akan dibentuk Forum Solo Kota Damai sebagai upaya untuk menyemai benih moderasi beragama antar ormas keagaaman dan ormas lain di Solo.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement