Selasa 21 Jun 2022 08:05 WIB

Kanselir Jerman: Putin Takut Demokrasi Menyebar ke Rusia 

Kanselir Jerman menilai Putin berusaha memecah Eropa.

Rep: Kamran Dikarma/ Red: Friska Yolandha
Kanselir Jerman Olaf Scholz saat diwawancarai di Berlin, Jumat (17/2/2022).
Foto: Michael Kappeler/dpa via AP
Kanselir Jerman Olaf Scholz saat diwawancarai di Berlin, Jumat (17/2/2022).

REPUBLIKA.CO.ID, BERLIN -- Kanselir Jerman Olaf Scholz menyebut Presiden Rusia Vladimir Putin takut jika demokrasi menyebar ke negaranya. Menurut Scholz, Putin pun berusaha memecah Eropa dan kembali ke dunia yang didominasi lingkungan pengaruh.

Dalam sebuah wawancara dengan surat kabar Muenchner Merkur yang diterbitkan di situs pemerintah Jerman pada Senin (20/6/2022), Scholz ditanya apakah Putin akan menerima jika Ukraina bergerak lebih dekat ke Uni Eropa. “Presiden Rusia harus menerima bahwa ada komunitas demokrasi berbasis hukum di lingkungannya yang tumbuh semakin dekat satu sama lain. Dia jelas takut percikan demokrasi menyebar ke negaranya,” kata Scholz menjawab pertanyaan tersebut.

Baca Juga

Scholz berpendapat, Putin menginginkan Eropa yang terpecah dan kembali ke politik dengan pengaruh lingkungan. “Dia (Putin) tidak akan berhasil dalam hal ini,” ujarnya.

Pekan lalu, Komisi Eropa merekomendasikan agar Ukraina diberi status kandidat untuk bergabung dengan Uni Eropa. Pada April lalu, Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky telah secara resmi menyerahkan kuesioner lengkap tentang keanggotaan di Uni Eropa kepada Kepala Delegasi Uni Eropa untuk Ukraina Matti Maasikas.

Kala itu, Zelensky mengatakan, Ukraina bisa memperoleh status kandidat dalam beberapa pekan mendatang.  “Hari ini adalah salah satu tahapan bagi negara kami untuk bergabung dengan Uni Eropa, aspirasi yang diusahakan dan diperjuangkan rakyat kami,” kata Zelensky pada 18 April lalu.

Zelensky yakin, Ukraina akan mendapatkan dukungan dan menjadi kandidat untuk aksesi. “Setelah itu, berikutnya, tahap final akan dimulai. Kami yakin prosedur ini bakal berlangsung dalam beberapa pekan mendatang dan itu akan positif bagi sejarah rakyat kami, mengingat harga yang harus dibayar di jalan menuju kemerdekaan serta demokrasi,” ucapnya. 

Kendati demikian, pada Mei lalu, Menteri Prancis untuk Urusan Eropa Clement Beaune mengatakan, proses keanggotaan Ukraina di Uni Eropa bisa memakan waktu cukup lama. Dia memperkirakan, hal itu bisa berlangsung antara 15 hingga 20 tahun.

“Kita harus jujur. Jika Anda mengatakan Ukraina akan bergabung dengan Uni Eropa dalam enam bulan atau satu-dua tahun, Anda berbohong. Mungkin dalam 15 atau 20 tahun, dibutuhkan waktu yang lama,” kata Beaune kepada Radio J, 22 Mei lalu. 

sumber : Reuters
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement