Rabu 29 Jun 2022 21:27 WIB

Putin: Rusia akan Berupaya Stabilkan Kondisi di Afghanistan

Putin akan coba membangun hubungan politik dengan pemimpin Afghanistan.

Rep: Alkhaledi Kurnialam/ Red: Teguh Firmansyah
Presiden Rusia Vladimir Putin, kiri, dan Presiden Tajikistan Emomali Rakhmon berfoto selama pertemuan mereka di Dushanbe, Tajikistan, Selasa, 28 Juni 2022.
Foto: Alexander Shcherbak, Sputnik, Kremlin Pool Ph
Presiden Rusia Vladimir Putin, kiri, dan Presiden Tajikistan Emomali Rakhmon berfoto selama pertemuan mereka di Dushanbe, Tajikistan, Selasa, 28 Juni 2022.

REPUBLIKA.CO.ID, MOSKOW -- Presiden Vladimir Putin menyebut Rusia sedang bekerja secara aktif untuk menstabilkan situasi di Afghanistan. Pernyataan itu dijelaskannya selama kunjungan Putin ke negara tetangga Tajikistan.

 "Kami melakukan segalanya untuk menormalkan situasi (di Afghanistan) dan kami mencoba membangun hubungan dengan kekuatan politik yang mengendalikan situasi," kata Putin dalam pembicaraan dengan Presiden Tajikistan Emomali Rakhmon dilansir dari The New Arab, Selasa (28/6/2022).

Baca Juga

Meski begitu, menurutnya upaya awal yang harus dilakukan adalah bahwa kelompok etnis Afghanistan mesti mengambil bagian penuh dalam menjalankan negara. "Di sini, Anda tahu yang terbaik. Apa yang perlu dilakukan untuk memastikan bahwa situasi di kawasan ini, di zona di mana kita memiliki tanggung jawab bersama, stabil dan tidak mengancam siapa pun," katanya kepada Rakhmon.

Ini adalah perjalanan pertama Putin ke luar negeri sejak dimulainya operasi militer Rusia di Ukraina pada 24 Februari. Rusia memiliki pangkalan militer utama di Tajikistan, salah satu sekutunya di wilayah tersebut.

Tajikistan sebagai perbatasan sepanjang 1.200 kilometer (750 mil) dengan Afghanistan dan pasukan Tajik secara teratur bentrok dengan penyelundup narkoba Afghanistan. Kembalinya kekuasaan Taliban di Afghanistan Agustus lalu telah membuat beberapa pengamat khawatir bahwa Tajikistan, yang termiskin dari negara-negara bekas Soviet, dapat menjadi tidak stabil. Negara ini secara ekonomi masih sangat bergantung pada Rusia.

 

 

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement