Selasa 05 Jul 2022 10:38 WIB

Keluarga Mesir Jaga Tradisi di Balik Inti Haji

Selama setahun penuh 10 pengrajin akan mengerjakan kiswah yang menutupi Ka'bah

Rep: Zahrotul Oktaviani / Red: Agung Sasongko
Seorang pria Saudi menyulam kaligrafi Islam, baik menggunakan benang perak murni atau benang perak berlapis emas, selama tahap akhir dalam persiapan tirai, atau Kiswah, yang menutupi Ka
Foto: AP/Amr Nabil
Seorang pria Saudi menyulam kaligrafi Islam, baik menggunakan benang perak murni atau benang perak berlapis emas, selama tahap akhir dalam persiapan tirai, atau Kiswah, yang menutupi Ka

IHRAM.CO.ID, KAIRO -- Di bawah dengungan kipas angin, Ahmed Othman dengan cermat menenun benang emas di kain hitam, yang memunculkan guratan ayat-ayat Alquran. Aktifitas ini terus ia lakukan setelah satu abad yang lalu karya kakeknya menghiasi Ka'bah di Masjidil Haram.

Sebuah upacara penggantungan kiswah, potongan besar sutra hitam yang disulam dengan pola emas, di atas struktur Ka'bah yang merupakan pusat Masjidil Haram, melambangkan dimulainya ziarah tahunan haji yang dimulai minggu ini.

Baca Juga

Keluarga Othman dulu dimuliakan seiring dengan tugasnya memproduksi kiswah. Kreasi keluarganya akan dikirim dengan karavan unta ke situs tersuci Islam di Arab Saudi barat, tempat umat Islam di seluruh dunia berpaling untuk berdoa.

Sekarang, Othman berupaya menjaga tradisi itu tetap hidup di sebuah bengkel kecil, terselip di atas pasar labirin Khan al-Khalili di pusat Kairo, di mana suvenir yang diproduksi secara massal berjejer di gang-gang.

Dilansir di Digital Journal, Selasa (5/7/2022), daerah ini secara historis merupakan rumah bagi kerajinan tradisional Mesir. Tetapi, para pengrajin harus menghadapi tantangan yang semakin besar. Bahan yang sebagian besar diimpor kini harganya menjadi mahal, terutama karena Mesir menghadapi kesengsaraan ekonomi dan mata uang yang terdevaluasi.

Penurunan daya beli membuat barang-barang kerajinan tangan berkualitas tinggi tidak dapat diakses oleh rata-rata orang Mesir. Di sisi lain, para pengrajin merasa sulit untuk menurunkan keterampilan mereka kepada generasi berikutnya, karena kaum muda memilih beralih ke pekerjaan yang lebih menguntungkan.

"Ini tidak akan terjadi jika ada banyak uang dalam hal kerajinan", ujar Othman sembari menghela nafas, membungkuk di atas salah satu dari banyak permadani yang memenuhi bengkelnya.

 

 

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement