Senin 01 Aug 2022 06:05 WIB

Otoritas Saudi Tahan 78 Pejabat Atas Dugaan Korupsi

78 orang yang ditahan atas tuduhan penyuapan, pemalsuan, dan pencucian uang.

Rep: Umar Mukhtar/ Red: Esthi Maharani
Bendera Arab Saudi
Foto: AP/Amr Nabil
Bendera Arab Saudi

REPUBLIKA.CO.ID, RIYADH -- Otoritas Saudi menahan puluhan pejabat dalam kasus dugaan korupsi. Penahanan dilakukan di tengah laporan bahwa Putra Mahkota Kerajaan Arab Saudi Mohammad bin Salman berusaha menyingkirkan calon saingan takhta.

Otoritas Pengawasan dan Anti-Korupsi (Nazaha), menyampaikan, ada 78 orang yang ditahan atas tuduhan penyuapan, pemalsuan, dan pencucian uang. Laporan itu menambahkan bahwa para terdakwa dipekerjakan di kementerian pertahanan, dalam negeri, kesehatan, keadilan, pendidikan, urusan kota dan pedesaan serta perumahan.

Dilansir Fars News, Ahad (31/7/2022), penangkapan itu dilakukan setelah otoritas Nazaha melakukan 3.207 inspeksi. Selain itu, 116 pejabat lainnya juga diselidiki untuk beberapa kejahatan.

Sejak Putra Mahkota Saudi Mohammad bin Salman (MBS) menjadi pemimpin de facto Arab Saudi pada 2017, kerajaan telah menangkap puluhan aktivis, blogger, intelektual, dan lainnya yang dianggap sebagai lawan politik. Hal ini menunjukkan hampir nol toleransi terhadap perbedaan pendapat bahkan dalam menghadapi kecaman internasional atas tindakan keras tersebut.

Kondisi tersebut dinilai sebagai upaya bersih-bersih terbesar dalam sejarah kerajaan. Bangsawan Saudi, miliarder, dan pejabat senior pemerintah sebelumnya disiksa dan diperas pada November 2017, ketika mereka ditangkap dan ditahan di hotel Ritz-Carlton dalam permainan kekuasaan oleh Pangeran MBS untuk menyingkirkan orang-orang yang berpotensi menimbulkan ancaman politik.

Sebanyak 500 orang ditangkap dalam pembersihan, yang berlanjut hingga 2019. Menurut The Wall Street Journal, pemerintah Saudi menargetkan uang tunai dan aset senilai hingga 800 miliar dolar AS. Pembersihan itu diyakini dimaksudkan untuk mengkonsolidasikan pemerintahan Pangeran MBS yang baru lahir.

Mantan tahanan dan rekan dari beberapa orang yang terperangkap dalam tindakan keras itu mengatakan, penahanan tersebut sewenang-wenang, lemah dalam proses peradilan, dan sering menargetkan musuh sang pangeran.

Media Inggris Guardian, yang mengutip seorang sumber juga menyampaikan, penangkapan November 2017 di hotel Ritz-Carlton di Riyadh itu mengkonsolidasikan pemerintahan Pangeran MBS. Ini terjadi sebelum pembunuhan terhadap jurnalis Jamal Khashoggi di Konsulat Saudi di Istanbul pada 2 Oktober 2018.

"Fakta bahwa dia lolos dengan itu memungkinkan dia untuk melakukan yang terakhir. Penjaga yang sama yang terlibat dalam Ritz terlibat dalam pembunuhan itu," kata sumber itu.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement