Ahad 14 Aug 2022 12:40 WIB

Penyerang Salman Rushdie Diduga Terafiliasi dengan Iran

Akibat serangan Salman Rushdie kemungkinan akan kehilangan matanya.

Rep: Dwina Agustin/ Red: Indira Rezkisari
Orang-orang memindai publikasi di stan berita di Teheran, Iran, Sabtu, 13 Agustus 2022. Salman Rushdie, yang novelnya The Satanic Verses mendapat ancaman pembunuhan dari pemimpin Iran pada 1980-an, ditikam di leher dan perutnya Jumat oleh seorang pria yang bergegas ke atas panggung saat penulis hendak memberikan kuliah di barat New York.
Foto: AP/Vahid Salemi
Orang-orang memindai publikasi di stan berita di Teheran, Iran, Sabtu, 13 Agustus 2022. Salman Rushdie, yang novelnya The Satanic Verses mendapat ancaman pembunuhan dari pemimpin Iran pada 1980-an, ditikam di leher dan perutnya Jumat oleh seorang pria yang bergegas ke atas panggung saat penulis hendak memberikan kuliah di barat New York.

REPUBLIKA.CO.ID, NEW YORK -- Penulis kontroversi Salman Rushdie tetap berada dalam perawatan di rumah sakit. Terdakwa penyerang Hadi Matar diduga memiliki hubungan dengan Iran.

Tinjauan terhadap akun media sosial Matar menunjukkan, dia bersimpati pada ekstremisme Syiah dan Korps Pengawal Revolusi Islam (IRGC) Iran. Meskipun tidak ada hubungan pasti yang ditemukan.

Baca Juga

"Kami masih dalam tahap awal dan, terus terang, dalam kasus seperti ini, saya pikir hal yang penting untuk diingat adalah orang harus tetap berpikiran terbuka. Mereka perlu untuk melihat semuanya. Mereka tidak bisa hanya berasumsi sesuatu terjadi karena mengapa mereka berpikir sesuatu terjadi," ujar pengacara pria yang berusia 24 tahun dari Fairview, New Jersey, yang ditunjuk pengadilan, Nathaniel Barone.

IRGC adalah faksi kuat yang mengendalikan kerajaan bisnis serta pasukan elit bersenjata dan intelijen. Kelompok ini dituduh Washington melakukan kampanye ekstremis global.

Belum ada reaksi resmi pemerintah di Iran terhadap serangan terhadap Rushdie, tetapi beberapa surat kabar garis keras Iran memuji penyerangnya. Contoh saja surat kabar garis keras yang pemimpin redaksinya ditunjuk oleh Pemimpin Tertinggi Iran Ali Khamenei Kayhan yang merayakan peristiwa tersebut.

"Seribu bravo... untuk orang pemberani dan patuh yang menyerang Salman Rushdie yang murtad dan jahat di New York," ujar laporan berita itu. "Tangan pria yang merobek leher musuh Tuhan harus dicium," tulisnya.

Sedangkan situs berita Asr pada Sabtu, memuat kutipan yang sering dikutip oleh Khamenei yang mengatakan panah yang ditembakkan oleh Khomeini suatu hari akan mengenai sasaran. Sedangkan judul surat kabar garis keras Vatan Emrooz berbunyi, “Pisau di leher Salman Rushdie”. Harian Khorasan memuat tajuk utama, “Setan dalam perjalanan ke neraka”.

Setelah berjam-jam operasi, menurut agennya, Andrew Wylie, Rushdie menggunakan ventilator dan tidak dapat berbicara pada Jumat (12/8/2022) malam. Novelis itu kemungkinan akan kehilangan matanya dan mengalami kerusakan saraf di lengannya dan luka di hatinya usai luka tusukan ketika akan memberikan kuliah tentang kebebasan artistik di Chautauqua Institution di barat New York. Polisi mengatakan pada Jumat, belum menetapkan motif serangan itu.

Penusukan itu dikecam oleh penulis dan politikus di seluruh dunia sebagai serangan terhadap kebebasan berekspresi. Dalam sebuah pernyataan pada Sabtu, Presiden AS Joe Biden, memuji cita-cita universal yang diwujudkan oleh Rushdie dan karyanya.

"Kebenaran. Keberanian. Ketahanan. Kemampuan untuk berbagi ide tanpa rasa takut. Ini adalah blok bangunan dari setiap masyarakat yang bebas dan terbuka,"  kata Biden.

Jaksa selama dakwaan Matar menyatakan, Rushdie ditikam 10 kali. Dia telah melakukan serangan yang direncanakan dengan bukti melakukan perjalanan dengan bus ke Chautauqua Institution dan membeli tiket yang memungkinkan dia untuk bertemu dengan Rushdie.

Matar ditangkap di tempat kejadian oleh seorang polisi negara bagian setelah dilumpuhkan ke lantai oleh penonton. Saksi mata mengatakan dia tidak berbicara saat sedang menyerang penulis.

Rushdie lahir dalam keluarga Muslim Kashmir di Bombay, sekarang Mumbai, sebelum pindah ke Inggris. Kepindahan dilakukan usai dia menghadapi ancaman pembunuhan atas karya kontroversi Satanic Verses, yang dipandang mengandung bagian-bagian yang menghujat Nabi Muhammad SAW.

Buku itu dilarang di banyak negara dengan populasi Muslim yang besar. Bahkan pada 1989, pemimpin tertinggi Iran saat itu Ayatollah Ruhollah Khomeini mengeluarkan sebuah fatwa menyerukan umat Islam untuk membunuh penulis dan siapa pun yang terlibat dalam penerbitan buku tersebut karena penistaan.

Organisasi Iran, beberapa terkait dengan pemerintah, telah mengumpulkan hadiah jutaan dolar untuk pembunuhan Rushdie. Pengganti Khomeini sebagai pemimpin tertinggi, Ayatollah Ali Khamenei, baru-baru ini mengatakan pada 2019 bahwa fatwa itu tidak dapat dibatalkan, dilansir dari Reuters, Ahad (14/8/2022).

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement