Kamis 08 Sep 2022 20:04 WIB

Program Konkrit dan Terintegrasi dalam Pengembangan Ekonomi Syariah

Indonesia akan mendorong program hilirisasi produk rempah.

Rep: Lida Puspaningtyas/ Red: Nidia Zuraya
Warga memilih produk unggulan yang dipamerkan di Festival Ekonomi Syariah Jawa 2022 di Surabaya, Jawa Timur, Kamis (8/9/2022). Pameran produk unggulan itu merupakan salah satu kegiatan dalam Festival Ekonomi Syariah Jawa 2022 yang bertema Sinergi Ekonomi dan Keuangan Jawa untuk Memperkuat Pemulihan Ekonomi Jawa yang Inklusif.
Foto: ANTARA/Didik Suhartono
Warga memilih produk unggulan yang dipamerkan di Festival Ekonomi Syariah Jawa 2022 di Surabaya, Jawa Timur, Kamis (8/9/2022). Pameran produk unggulan itu merupakan salah satu kegiatan dalam Festival Ekonomi Syariah Jawa 2022 yang bertema Sinergi Ekonomi dan Keuangan Jawa untuk Memperkuat Pemulihan Ekonomi Jawa yang Inklusif.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Sinergi penguatan pengembangan ekonomi syariah semakin konkrit dan terintegrasi, khususnya di pulau Jawa. Kepala Perwakilan Bank Indonesia Jawa Timur, Budi Hanoto menyampaikan Festival Ekonomi Syariah Jawa pada tahun ini mendorong sinergi dan integrasi program.

"Ada tiga program yang kita usung, mulai dari hilirisasi hingga digitalisasi," katanya dalam Peresmian FESyar Jawa, Kamis (8/9/2022).

Baca Juga

Bank Indonesia secara umum meluncurkan program Go Global, Go Agriculture, dan Go Digital. Secara lebih rinci, untuk wilayah Jawa akan ada program hilirisasi dalam HILAL atau Hilirisasi Produk Halal untuk Pasar Global untuk Go Global . Sementara Go Agriculture melalui program SHAF atau Social Partnership for Food Security, dan Go Digital melalui Digitalization for Shariah Economic Development.

Budi mengatakan untuk tahap awal, program hilirisasi terbaik produk rempah. Mulai dari inkubasi hingga ekspor bekerja sama dengan Global Halal Hub. Ini terintegrasi dengan program pemerintah Indonesia Spice Up the World.

Indonesia mencanangkan ekspor bumbu dan rempah Indonesia akan menjadi dua miliar dolar AS atau Rp 28 triliun pada 2024. Saat ini, Indonesia berada di peringkat ke sembilan untuk pemasok rempah global dengan nilai 1,3 miliar dolar AS atau Rp 14,6 triliun.

"Masih tingginya potensi pengembangan rempah Indonesia ini kita bawa dalam FESyar, nanti bekerja sama dengan Global Halal Hub untuk bisa masuk ke platform pemasaran dan perdagangan global," katanya.

Sementara untuk program SHAF, kolaborasi akan diimplementasikan dengan Pusat Inkubasi Bisnis Syariah (PINBAS) MUI, Baznas, Pondok pesantren, hingga kelompok tani dan ternak. Ini juga sejalan dengan program ketahanan pangan dalam mengatasi ancaman inflasi dalam Gerakan Nasional Pengendalian Inflasi Pangan.

Untuk program DIGEST, dalam kegiatan FESyar Jawa mendorong kolaborasi dan sinergi penyedia jasa layanan teknologi dan pelaku bisnis syariah. Melalui perluasan penggunaan QRIS dan BIFast diharapkan dorong produktivitas penggunaan teknologi digital, termasuk untuk pesantren dan pelaku bisnis syariah. Sehingga santri, pelaku UMKM, hingga alumni siap memasuki ekosistem digital syariah.

 

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement