Sabtu 10 Sep 2022 18:22 WIB

Hadapi Krisis Pangan Global, Mentan SYL Dorong Unhas Menjadi Pilar Pertanian di KTI

Mentan Syahrul Yasin Limpo membawakan orasi dalam Dies Natalis Universitas Hasanuddin

Mentan Syahrul Yasin Limpo membawakan orasi dalam Dies Natalis Universitas Hasanuddin ke-66.
Foto: Kementan
Mentan Syahrul Yasin Limpo membawakan orasi dalam Dies Natalis Universitas Hasanuddin ke-66.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA - Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo (Mentan SYL) membawakan orasi dalam Dies Natalis Universitas Hasanuddin (Unhas) ke-66 dengan judul Menjaga Kekuatan Nalar dan Gengsi Kultural, Mewujudkan Unhas di Kawasan Timur Indonesia (KTI) Menjadi Pilar Menuju Indonesia Maju, Mandiri, dan Modern di Tengah Krisis Global.

Peningkatan peran Unhas sangat penting guna menghadapi krisis global yang akan menggerus kualitas kesejahteraan manusia, baik pada level global, regional, dan nasional terutama yang terjadi pada sektor pangan.

Baca Juga

"Saya berpandangan, di tengah tantangan bangsa yang sangat berat pada masa depan, Unhas harus tampil untuk membangkitkan dan membahanakan kekuatan nalar dan gengsi kultural, sebagai landasan atau pilar untuk menuju Indonesia Maju, Mandiri, dan Modern terutama menjawab berbagai tantangan global yang sedang mengalami turbulensi. Oleh karena itu Unhas harus mengambil peranan yang strategis untuk mewujudkannya," ucap Mentan SYL dalam orasinya yang berlangsung di Baruga Andi Pangerang Pettarani, Kampus Unhas Tamalanrea, Makassar, Sabtu (10/9/2022).

Mantan gubernur Sulsel dua periode ini menegaskan salah satu tanggung jawab utama perguruan tinggi, khususnya Unhas, adalah membangun dan menetaskan bibit dan benih nalar yang paripurna. Perguruan tinggi harus menjadi driver yang menumbuhkan visi dan misi sosial yang bisa dijadikan sebagai pendasaran kehidupan sosial. 

"Untuk menciptakan visi dan misi yang paripurna, kita tidak boleh saling membohongi kata hatimu, jangan bohongi nalarmu. Kalau kita saling membohongi nalar, kalau kita membiasakan diri membohongi nurani kita, maka kita tidak berada dalam dunia akademia yang utuh," tegasnya.

"Prinsipnya, Unhas harus memiliki character of knowledge, integrity, morality, vision, affiliation, collaboration, dan kesadaran emosional yang berbasis pada kepentingan bangsa dan negara. Kampus, universitas seperti Unhas, tidak boleh ternoda oleh cara-cara yang pragmatis dan transaksional untuk kepentingan jangka pendek," sambungnya. 

Lebih lanjut SYL meminta Unhas untuk menguatkan penalaran untuk menghasilkan karya-karya teori dan teknologi. Dengan penalaran, Unhas harus membongkar paradigma yang sudah usang dan menggantikan dengan paradigma baru yang lebih bersesuai dengan spirit zaman. 

"Dengan itulah Unhas akan memperkuat landasan kehadirannya. Dengan itu pula Unhas akan memperkuat batu loncatannya. Dan dengan loncatan itulah Unhas akan terkognisi dalam konstelasi akademia," paparnya.

 

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement